Demo Pariwisata Berujung Pemukulan, Mahasiswa Lombok Timur Alami Luka Parah

Avatar

- Jurnalis

Kamis, 22 Januari 2026 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang mahasiswa peserta aksi unjuk rasa  alami luka di bagian  alis mata dan giginya usai bentrokan antara massa dan aparat saat aksi Aliansi Pemuda Peduli Pariwisata (APIPI) di depan Kantor Bupati Lombok Timur, Kamis (22/01/2026). Demonstran tersebut diduga mengalami pemukulan saat pembubaran paksa aksi.

Seorang mahasiswa peserta aksi unjuk rasa alami luka di bagian alis mata dan giginya usai bentrokan antara massa dan aparat saat aksi Aliansi Pemuda Peduli Pariwisata (APIPI) di depan Kantor Bupati Lombok Timur, Kamis (22/01/2026). Demonstran tersebut diduga mengalami pemukulan saat pembubaran paksa aksi.

SUMBAWAPOST.com | Lombok Timur- Aksi unjuk rasa Jilid II yang digelar Aliansi Pemuda Peduli Pariwisata (APIPI) kembali berujung ricuh. Demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor Bupati Lombok Timur, Kamis (22/01/2026), menyedot perhatian publik setelah kembali diwarnai tindakan represif aparat penegak hukum (APH) terhadap massa aksi.

Dalam aksi tersebut, massa dengan tegas menuntut pencopotan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur beserta Staf Khusus Bidang Pariwisata. Keduanya dinilai gagal total dan bertanggung jawab atas buruknya tata kelola sektor pariwisata di Lombok Timur yang dinilai semakin amburadul.

Aksi Jilid II ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi sehari sebelumnya, Rabu (21/01/2026), yang juga berakhir dengan kekerasan aparat hingga menyebabkan sejumlah demonstran terluka. Namun alih-alih melakukan evaluasi serta mengedepankan pendekatan persuasif, aparat kembali mempertontonkan wajah kekerasan negara terhadap warganya sendiri.

Dalam situasi hujan deras yang mengguyur lokasi aksi, ratusan mahasiswa dengan mudah memasuki halaman Kantor Bupati Lombok Timur. Namun suasana berubah drastis ketika aparat kepolisian dan Satpol PP datang dalam jumlah besar dan langsung menghadang massa yang berupaya memastikan keberadaan Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, di kantor tersebut.

Tanpa dialog dan tanpa peringatan yang dinilai manusiawi, aparat secara paksa memukul mundur massa aksi. Tindakan represif ini kembali memicu bentrokan terbuka antara demonstran dan aparat. Akibatnya, sejumlah massa mengalami luka serius. Beberapa di antaranya dilaporkan mengalami luka parah di kepala, patah gigi, hingga pendarahan hebat, yang diduga kuat akibat pemukulan langsung saat pembubaran paksa dilakukan.

Baca Juga :  Polres Ringkus 10 Curanmor Lintas Pulau di NTB, Motor Bodong Dikirim Pake Dump Truk yang Berisi Pasir

Ketua Umum HMI MPO, Agamawan Salam, yang tergabung dalam aliansi aksi, mengecam keras tindakan aparat yang ia nilai arogan dan tidak berperikemanusiaan.

“Kami mengecam keras tindakan brutal APH dalam pengamanan aksi ini. Aparat bertindak arogan dan membabi buta. Kader saya dari HMI mengalami luka parah di kepala hingga berdarah. Ini bentuk nyata kekerasan negara terhadap rakyatnya sendiri,” tegas Agamawan.

Tak hanya itu, Agamawan juga menyatakan kekecewaan mendalam dan menyampaikan mosi tidak percaya terhadap Polres Lombok Timur.

“Kami menyatakan mosi tidak percaya terhadap aparat kepolisian Lombok Timur. Ini bukan pengamanan, ini penindasan. Kami akan terus mengawal kasus ini dan menuntut Bupati Lombok Timur serta Kapolres Lombok Timur bertanggung jawab penuh atas kejadian ini,” lanjutnya.

Ia menegaskan, tuntutan utama massa aksi tetap tidak berubah, yakni mendesak Bupati Lombok Timur untuk segera mencopot Kepala Dinas Pariwisata dan Staf Khusus Bidang Pariwisata yang dinilai menjadi biang kegagalan tata kelola pariwisata daerah.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi maupun klarifikasi dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur maupun pihak kepolisian terkait tindakan represif yang kembali mencederai prinsip demokrasi dan kebebasan berekspresi tersebut.

Sementara, aksi sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Widayat, merespons aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Pemuda Peduli Pariwisata (APIPI) sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pengembangan sektor pariwisata daerah.

Baca Juga :  20 Remaja Hampir Jadi Korban TPPO Berkedok Pekerjaan Bergaji Tinggi, SBMI NTB: KTP Mereka Sampai 'Disulap'

Menurut Widayat, kehadiran massa aksi ke Kantor Dinas Pariwisata menunjukkan adanya perhatian serius dari kalangan mahasiswa terhadap kondisi pariwisata di Lombok Timur.

“Terhadap adik-adik mahasiswa dengan dia datang ke Dispar berarti dia punya perhatian yang lebih terhadap pariwisata,” kata Widayat.

Meski demikian, Widayat menilai aksi unjuk rasa seharusnya didahului dengan ruang dialog dan diskusi yang konstruktif agar solusi yang dihasilkan lebih tepat sasaran. Ia menekankan pentingnya pengambilan data secara berimbang sebelum menyampaikan tuntutan di ruang publik.

“Tetapi saya kepingin ada diskusi konstruktif sebelum dia ada mimbar bebas seperti ini. Seharusnya dia ambil data dulu ke kami, bukan ngambil dari satu arah. Sehingga begitu dia dapat dari kami baru kita cari solusi terbaik,” katanya.

Lebih lanjut, Widayat menegaskan bahwa sektor pariwisata sangat bergantung pada citra dan pemberitaan yang positif. Menurutnya, narasi negatif berpotensi mengganggu aktivitas dan iklim pariwisata di Lombok Timur.

“Yang jelas bahwa pariwisata tidak butuh berita jelek. Yang kami butuhkan adalah berita baik. sehingga tidak mengganggu vibes wisata di Lombok Timur,” ujarnya.

Diketahui, sebelum menggelar orasi di depan Kantor Bupati Lombok Timur, massa aksi terlebih dahulu melakukan unjuk rasa di Kantor Dinas Pariwisata. Aksi tersebut akhirnya dibubarkan sekitar pukul 13.40 Wita setelah Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur menemui para demonstran.

 

 

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Anggota DPRD NTB Minta Distribusi Elpiji Subsidi Dievaluasi, Pengawasan Agen dan Pangkalan Jadi Sorotan
Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Tembus Rp50 Ribu, DPRD NTB Abdul Ra’uf Minta Pengawasan Distribusi Diperketat
Dari Negeri Seribu Masjid ke Negeri Seribu Perlindungan, Ketua DPRD NTB Serukan Revolusi Keselamatan Santri
Kasus Dugaan Pelecehan Santri di Bima Naik Penyidikan, 11 Korban Terungkap, Pimpinan Ponpes Belum Jadi Tersangka
Demokrasi Tak Boleh Pilih Kasih, KPU NTB Gandeng Sentra Paramita Rangkul Kelompok Rentan dan Marjinal
Temuan BPK RI Pada Tata Kelola Aset Pemprov NTB: Evaluasi dan Strategi Pembenahan Kedepan
Masa Jabatan Ketua Umum Partai Politik Digugat ke MK, Pemohon Minta Dibatasi Maksimal Dua Periode
Eceng Gondok Bendungan Batujai Dibidik Jadi Produk Ekspor, Disperindag NTB Dorong Industri Bernilai Tambah
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:11 WIB

Anggota DPRD NTB Minta Distribusi Elpiji Subsidi Dievaluasi, Pengawasan Agen dan Pangkalan Jadi Sorotan

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:35 WIB

Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Tembus Rp50 Ribu, DPRD NTB Abdul Ra’uf Minta Pengawasan Distribusi Diperketat

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:17 WIB

Dari Negeri Seribu Masjid ke Negeri Seribu Perlindungan, Ketua DPRD NTB Serukan Revolusi Keselamatan Santri

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:37 WIB

Kasus Dugaan Pelecehan Santri di Bima Naik Penyidikan, 11 Korban Terungkap, Pimpinan Ponpes Belum Jadi Tersangka

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:22 WIB

Demokrasi Tak Boleh Pilih Kasih, KPU NTB Gandeng Sentra Paramita Rangkul Kelompok Rentan dan Marjinal

Berita Terbaru