SUMBAWAPOST.com|™ Mataram- Berawal dari titik terendah, Nasrin, pengusaha asal Desa Malaju, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, berhasil mengembangkan tanaman Kelor menjadi produk bernilai ekonomi hingga menembus pasar internasional.
Nasrin, yang lahir pada 1 Juli 1972, menyulap Daun Kelor yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dan hanya digunakan sebagai bahan sayur rumahan menjadi bahan baku minuman teh yang dikenal sebagai Teh Kelor.
Kini, Nasrin mendorong kelor menjadi salah satu komoditas bernilai ekonomis. Tidak hanya untuk minuman, kelor juga dikembangkan sebagai bahan baku produk kesehatan, seperti minuman herbal dan makanan.
Sosok Nasrin berhasil mengembangkan komoditas tersebut hingga dikenal di kancah internasional. Ia pun memiliki cita-cita menjadikan kelor NTB dikenal hingga ke seluruh dunia.
“Saya ingin kelor NTB jadi terkenal, tidak saja di NTB, Nasional, tapi Dunia tahu,” katanya, saat dimintai keterangannya ketika menghadiri undangan sebagai narasumber untuk diwawancarai peserta UKW PWI NTB, Jumat (11/9/2026) di Aula Utama Kantor Bank NTB Syariah, Jalan Udayana, Kota Mataram.
Perjalanan usaha Nasrin dimulai sejak masih duduk di bangku SMP. Ia merantau dari Kilo ke Makassar dengan berbekal ijazah SMP. Di Makassar, ia bekerja sebagai sales dan kemudian dipercaya menjadi kepala cabang.
Pada 1990, Nasrin pindah ke Surabaya. Ia bekerja sebagai pengantar dan kemudian dipercaya menjabat sebagai wakil direktur.
“Pada tahun 1993, saya pindah dari Surabaya ke Lombok. Bermodalkan 500 ribu. Membagi uang itu untuk bayar kos, makan dan beli bahan baku memulai usaha,” ungkapnya.
Nasrin mengungkapkan, perjalanan hidup dan usahanya tidak selalu berjalan mulus. “Saya pernah diremehkan, pernah dicemooh orang, dianggap remeh sama orang, saya dianggap tidak layak dan mampu, karena saya hanya lulusan ijazah SMP, bahkan untuk minta bantuan saja susah,” keluhnya.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi pemacu semangat bagi Nasrin untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih kesuksesan.
“Ya alhamdulillah, atas keraguan dan cemoohan itu saya buktikan saya bisa, bahkan saya sekarang sudah kuliah S2, dan anak saya sudah Doktor,” ungkap Nasrin.
Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nasrin. Berkat mengembangkan daun kelor menjadi teh yang dikenal di NTB hingga pasar internasional, usahanya terus berkembang. “Karyawan saya saat ini 35 orang dengan omzet tertinggi sebesar lima miliar,” terangnya.
Nasrin mengungkapkan, usahanya bernama CV TribTani Utama yang bergerak di industri tani Teh Kelor. Kantornya berada di BTN Sakura Raya, Blok G Nomor 10, BTN Sweta Indah, Mataram.
Sejumlah merek kemudian dikembangkan, di antaranya Sasambo Bidom, Kidom, Mori Thai, Joker dan Akila.
“Tidak hanya minuman, saat ini saya kembangkan produk dengan berbahan kelor dibuatkan kapsul vitamin, minuman nutrisi dan antioksidan,” ungkapnya.
Kebutuhan bahan baku setiap bulan mencapai 20-30 ton. “Dikirim ke Singapore, Australia, Malaysia dan Spanyol,” terangnya. Sembari mengatakan bahwa pihaknya juga bekerja sama dengan Universitas Brawijaya Malang untuk pengembangan kelor sebagai bahan kecantikan.
Bagi Nasrin, kelor bukan hanya sekadar tanaman. Kelor telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, dari seorang perantau dengan modal Rp500 ribu hingga membawa produk rumahan mendunia.
Dari perjalanan tersebut, banyak mahasiswa dan pebisnis muda yang mengundangnya menjadi pemateri.
“Alhamdulillah banyak mengundang jadi inspirasi, berkat keseriusan dan keuletan saya dalam membangun usaha ini sehingga dapat merasakan manfaatnya, terutama bisa berangkatkan ibu saya naik haji,” terangnya.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










