Bukan Provinsi Pulau Sumbawa! Razikin Usul Nama Nusa Tenggara Tengah, Alasannya Menarik

Avatar

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 15:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokoh Muda Nasional asal Bima, Razikin, menyampaikan gagasan penggunaan nama Provinsi Nusa Tenggara Tengah sebagai alternatif nomenklatur daerah otonom baru di Pulau Sumbawa yang dinilai lebih inklusif dan representatif.

Tokoh Muda Nasional asal Bima, Razikin, menyampaikan gagasan penggunaan nama Provinsi Nusa Tenggara Tengah sebagai alternatif nomenklatur daerah otonom baru di Pulau Sumbawa yang dinilai lebih inklusif dan representatif.

SUMBAWAPOST.com | Jakarta- Wacana pembentukan provinsi baru di Pulau Sumbawa kembali menguat seiring meningkatnya harapan masyarakat terhadap percepatan pembangunan, pemerataan pelayanan publik, serta penguatan kapasitas pemerintahan daerah. Namun di tengah derasnya dukungan terhadap pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa, muncul gagasan baru yang menawarkan perspektif berbeda mengenai identitas daerah otonom baru tersebut.

Tokoh Muda Nasional asal Bima, Razikin, mengusulkan agar provinsi baru yang akan dibentuk tidak menggunakan nomenklatur Provinsi Pulau Sumbawa, melainkan Provinsi Nusa Tenggara Tengah. Menurutnya, nama tersebut dinilai lebih inklusif, representatif, dan mampu menjadi simbol kebersamaan seluruh masyarakat yang mendiami Pulau Sumbawa.

Pandangan tersebut disampaikan Razikin yang merupakan Magister Ilmu Politik dari Universitas Indonesia dan Magister Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada.

Menurut Razikin, nomenklatur Provinsi Nusa Tenggara Tengah lebih tepat digunakan dibandingkan Provinsi Pulau Sumbawa karena memiliki makna yang lebih inklusif serta mencerminkan posisi geografis wilayah yang berada di antara Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Pembentukan daerah baru seharusnya tidak hanya mempertimbangkan aspek administratif, tetapi juga identitas kolektif yang mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat. Nama Nusa Tenggara Tengah merepresentasikan posisi geografis sekaligus semangat kebersamaan seluruh masyarakat Pulau Sumbawa,” ujar Razikin, dalam keterangan yang diterima media ini. Selasa (2/6/2026).

Baca Juga :  Pemuda Sayang-Sayang Nyolong Minyak Goreng dan Parfum di Pagi Buta, Polsek Mataram Langsung Sikat

Ia menjelaskan bahwa Pulau Sumbawa merupakan wilayah yang memiliki keragaman sosial dan budaya yang sangat kaya. Di dalamnya hidup masyarakat Samawa, Mbojo (Bima), Dompu, serta berbagai kelompok masyarakat lainnya yang selama ini berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Karena itu, penggunaan nomenklatur yang bersifat regional dinilai lebih mampu mengakomodasi seluruh elemen masyarakat tanpa menonjolkan identitas tertentu. Pendekatan tersebut dianggap penting untuk membangun rasa memiliki yang kuat terhadap provinsi baru yang akan lahir di masa mendatang.

Secara geografis, lanjut Razikin, keberadaan Pulau Sumbawa berada di tengah gugusan Kepulauan Nusa Tenggara. Oleh karena itu, penggunaan nama Nusa Tenggara Tengah memiliki landasan yang kuat baik secara akademik maupun filosofis.

Bahkan, nomenklatur tersebut dinilai dapat melengkapi struktur kawasan Nusa Tenggara menjadi lebih sistematis, yakni Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

Menurutnya, nama suatu daerah bukan sekadar simbol administratif, melainkan juga instrumen politik yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat. Oleh sebab itu, proses pembentukan daerah otonom baru perlu disertai dengan perumusan identitas yang mampu memperkuat integrasi sosial dan mendorong pembangunan jangka panjang.

Baca Juga :  Warga Dompu Hilang Saat Selamatkan Sapi, Ditemukan Tewas Dipesisir Pantai 

“Provinsi baru harus dibangun di atas fondasi persatuan. Yang kita bentuk bukan hanya birokrasi baru, melainkan juga identitas politik baru yang dapat diterima dan dibanggakan oleh seluruh masyarakat Pulau Sumbawa,” tegasnya.

Meski demikian, Razikin menegaskan bahwa usulan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengurangi penghormatan terhadap perjuangan panjang para tokoh dan masyarakat yang selama ini memperjuangkan pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa.

Sebaliknya, gagasan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkaya diskursus publik agar daerah otonom baru yang akan lahir nantinya memiliki legitimasi sosial yang kuat dan mampu menjadi simbol persatuan seluruh masyarakat.

“Pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya terbentuknya provinsi baru, tetapi bagaimana provinsi tersebut mampu menghadirkan pemerintahan yang efektif, pembangunan yang merata, serta identitas yang mempersatukan seluruh elemen masyarakat. Dalam konteks itu, nama Nusa Tenggara Tengah layak menjadi bahan pertimbangan bersama,” pungkas Razikin.

Gagasan tersebut menambah warna dalam diskursus pemekaran Pulau Sumbawa yang terus berkembang. Di tengah harapan besar terhadap lahirnya daerah otonom baru, perdebatan mengenai identitas dan nomenklatur dinilai menjadi bagian penting dalam membangun fondasi sosial, politik, dan kebudayaan yang kuat bagi provinsi yang akan datang.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Jalan Soromandi Bima Masuk Prioritas IJD 2026, Rp48 Miliar Bersumber dari APBN
Disorot HMI dan DPRD, Pemprov NTB Buka Suara: Jalan Soromandi Masuk IJD 2026, Rp48 Miliar Disiapkan
HMI Sorot Jalan Bima-Dompu, Anggota Komisi IV DPRD NTB Dae Leo Angkat Bicara
Tiga Desa Pasang ‘Benteng Adat’ di Hutan Sesaot, Gubernur Miq Iqbal Perkuat Zona Merah
Warga Jadi ‘Pasukan Infanteri’ Jaga Hutan Sesaot, Gubernur NTB Iqbal: Zona Merah Tak Boleh Disentuh
Hanura NTB Dipacu Menatap 2029, Rio Capella: Musuh Paling Besar Partai Itu Kemalasan
Hanura NTB Bidik Kursi DPRD di 3 Daerah Ini pada Pemilu 2029, Ternyata Ini Alasannya
Hanura NTB Siap ‘Pasang Papan Nama’ di Tiap Desa
Berita ini 152 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 12:13 WIB

Jalan Soromandi Bima Masuk Prioritas IJD 2026, Rp48 Miliar Bersumber dari APBN

Rabu, 2 September 2026 - 10:46 WIB

Disorot HMI dan DPRD, Pemprov NTB Buka Suara: Jalan Soromandi Masuk IJD 2026, Rp48 Miliar Disiapkan

Rabu, 2 September 2026 - 09:45 WIB

HMI Sorot Jalan Bima-Dompu, Anggota Komisi IV DPRD NTB Dae Leo Angkat Bicara

Rabu, 2 September 2026 - 07:16 WIB

Tiga Desa Pasang ‘Benteng Adat’ di Hutan Sesaot, Gubernur Miq Iqbal Perkuat Zona Merah

Rabu, 2 September 2026 - 05:33 WIB

Warga Jadi ‘Pasukan Infanteri’ Jaga Hutan Sesaot, Gubernur NTB Iqbal: Zona Merah Tak Boleh Disentuh

Berita Terbaru