100 Hari Iqbal-Dinda Bukan Tolak Ukur: Legislator Muda NTB MH Ajak Masyarakat Optimis, Jangan Skeptis

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 30 Mei 2025 - 11:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMBAWAPOST.com, Mataram-
Seratus hari bukan waktu panjang dalam pemerintahan, tapi cukup untuk menunjukkan arah. Begitulah pandangan sebagian publik NTB terhadap duet Gubernur-Wakil Gubernur Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal dan Hj. Indah Dhamayanti Putri yang kini hampir menuntaskan 100 hari kerja pertamanya. Di tengah ekspektasi publik yang tinggi, muncul suara yang menilai kepemimpinan ini sudah bergerak ke jalur yang tepat meski belum tentu cukup cepat.

Anggota Komisi I DPRD NTB, Marga Harun, menjadi salah satu yang angkat bicara. Ia menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan Iqbal–Dinda sejauh ini cukup menjanjikan, bahkan bisa disebut sebagai ‘angin segar’ dalam iklim birokrasi NTB yang selama ini dikenal lamban dan cenderung stagnan.

“Saya melihat pemerintahan Iqbal–Dinda cukup efektif dan efisien dalam menyerap aspirasi masyarakat. Mereka terlihat serius menjalankan visi NTB Makmur dan Mendunia, bukan sekadar simbolik,” ujar Marga kepada wartawan, Jumat 30 Mei 2025.

Namun, ucapan Marga tak hanya pujian. Ada analisis yang menggigit di balik pernyataannya. Ia menyoroti bahwa indikator efektivitas bukan diukur dari banyaknya baliho atau jargon, melainkan dari keberanian mengubah wajah birokrasi melalui sistem meritokrasi.

Baca Juga :  Gubernur NTB Miq Iqbal Dorong Majelis Taklim Jadi Motor Ekonomi Umat dan Senjata Lawan Kemiskinan

“Penempatan pejabat eselon II dan III yang dilakukan saat ini sudah mengarah pada prinsip meritokrasi sesuai kapasitas dan rekam jejak. Ini langkah tak populer, tapi sangat fundamental,” jelas politisi muda dari PPP itu.

Bagi Marga, meritokrasi adalah alat bedah birokrasi. Tanpa itu, NTB hanya akan berkutat pada wajah lama, birokrasi yang penuh kompromi politik, penuh titipan, dan minim hasil nyata. Maka dari itu, langkah Iqbal–Dinda dalam reformasi struktur birokrasi adalah semacam pertaruhan politik yang tak kecil.

100 Hari: Momentum atau Ilusi Politik?

Meski memberi kredit positif, Marga tidak larut dalam euforia. Ia secara tegas mengingatkan bahwa usia 100 hari bukanlah tolok ukur performa pemerintahan secara utuh. Ia bahkan menyebut siapa pun yang buru-buru menyimpulkan keberhasilan pemerintahan Iqbal–Dinda pada tahap ini sebagai orang yang gagal berpikir strategis.

“Kalau hari ini kita langsung membuat konklusi soal kinerja mereka, berarti cara berpikir kita gagal. Pemerintahan ini masih dalam fase konsolidasi, menyusun peta jalan pembangunan ke depan,” tegas Marga.

Baca Juga :  Bappeda NTB Targetkan Penguatan 7.800 Posyandu Berbasis 6 SPM pada 2026

Menurutnya, saat ini Gubernur dan Wakil Gubernur NTB tengah melakukan inventarisasi potensi dan problematika krusial, termasuk pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan stagnasi pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, publik harus bersabar namun tetap kritis.

“Kita harus objektif. Jangan terlalu cepat memuji, tapi juga jangan skeptis berlebihan. Pemerintah butuh ruang untuk bekerja. Yang jelas, arah kebijakan awal ini menunjukkan keseriusan,” tambahnya.

Politik Populis Tak Cukup, NTB Butuh Politik Solutif

Dalam bagian akhir pernyataannya, Marga menekankan bahwa keberhasilan pemerintahan Iqbal–Dinda tidak boleh hanya diukur dari seberapa sering mereka turun ke lapangan, membagikan bantuan, atau berpidato di podium rakyat. Lebih dari itu, keberhasilan harus diukur dari kemampuan mereka mengubah kebijakan menjadi hasil konkret yang menyentuh kehidupan warga paling bawah.

“Politik populis bagus untuk membangun citra, tapi NTB hari ini tidak butuh itu saja. Kita butuh politik yang solutif, berbasis data, dan menjawab akar persoalan,” pungkasnya.

 

Berita Terkait

Satgas Desa Berdaya Resmi Dibentuk, Pemprov NTB Siap Sikat Program Tak Tepat Sasaran hingga ke Desa
Sekda NTB Abul Chair Tegaskan Desa Berdaya Jadi Mesin Utama Pengentasan Kemiskinan
Amerika Serikat Dalami Tambang Rakyat Lantung Sumbawa, Soroti Lingkungan dan Tata Kelola SDA
NTB Terapkan Metode Baru Percepat Penanganan Stunting, Desa Sakra Lombok Timur Jadi Pilot Project
Tambang Rakyat Lantung Sumbawa Jadi Perhatian Amerika Serikat
KPU NTB dan Bawaslu NTB Touring Monitoring Coktas di Lombok Utara, Pastikan Data Pemilih Akurat
TPA Kebon Kongok di NTB Berpotensi Hasilkan 9 Juta Ton Gas Metana per Tahun, Siap Jadi Sumber Energi Alternatif
Wakil Ketua DPRD Lalu Wirajaya Hadiri Penutupan MTQ XXXI NTB 2026, Dorong Lahirnya Generasi Qurani Berprestasi
Berita ini 77 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:05 WIB

Satgas Desa Berdaya Resmi Dibentuk, Pemprov NTB Siap Sikat Program Tak Tepat Sasaran hingga ke Desa

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:59 WIB

Sekda NTB Abul Chair Tegaskan Desa Berdaya Jadi Mesin Utama Pengentasan Kemiskinan

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:45 WIB

Amerika Serikat Dalami Tambang Rakyat Lantung Sumbawa, Soroti Lingkungan dan Tata Kelola SDA

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:27 WIB

NTB Terapkan Metode Baru Percepat Penanganan Stunting, Desa Sakra Lombok Timur Jadi Pilot Project

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:19 WIB

Tambang Rakyat Lantung Sumbawa Jadi Perhatian Amerika Serikat

Berita Terbaru

Suasana diskusi antara Delegasi Konsulat Amerika Serikat dan Bupati serta perangkat daerah Kabupaten Sumbawa terkait tambang rakyat Lantung.

Pemerintahan

Tambang Rakyat Lantung Sumbawa Jadi Perhatian Amerika Serikat

Rabu, 17 Jun 2026 - 14:19 WIB