SUMBAWAPOST.com | Mataram- Kondisi ruang kelas yang tak kunjung rampung kembali menjadi sorotan tajam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Anggota Komisi V DPRD NTB, Nadirah Al-Habsyi, S.E., Akt, menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus mendesak adanya langkah tegas agar pembangunan fasilitas pendidikan tidak terus mandek dan merugikan peserta didik.
Sebagai anggota Komisi V yang membidangi Kesejahteraan Rakyat dan Pemberdayaan Perempuan, serta salah satunya membawahi sektor Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Nadirah Al-Habsyi menegaskan bahwa keterlambatan pembangunan ruang kelas bukan persoalan sepele.
Menurutnya, kondisi tersebut menyentuh langsung hak dasar siswa dan guru dalam menjalankan proses belajar mengajar yang layak.
“Saya ikut prihatin dan berharap ini cepat teratasi. Harus ada langkah berani agar proses pembangunan tetap berjalan sesuai mekanisme yang ada. Ruang kelas harus segera bisa dimanfaatkan kembali oleh siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,” tegas Nadirah Al-Habsyi dan juga Istri dari Sekwil GP Ansor NTB Arman Anwar saat dikonfirmasi media ini dimintai tanggapannya soal Proyek Sekolah SMAN I Parado Kabupaten dari yang bersumber dari Dana DAK Disdikpora NTB 2024 yang hingga saat ini pekerjaannya masih terbengkalai dan tidak dilanjutkan pekerjaannya. Selasa (27/01/2026).
Informasi yang dihimpun media ini, peristiwa keterlambatan pembangunan tidak hanya terjadi di SMAN 1 Parado, tetapi menyebar di puluhan titik sekolah lainnya di NTB. Hal ini menunjukkan persoalan bukan hanya kasus tunggal, melainkan fenomena sistemik yang perlu perhatian serius pemerintah.
Ia menilai, pembiaran terhadap bangunan pendidikan yang terbengkalai mencerminkan lemahnya pengawasan serta ketidaktegasan dalam pengelolaan proyek pendidikan. Kondisi ini, kata dia, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi merugikan masa depan generasi muda.
Karena itu, Komisi V DPRD NTB memastikan tidak akan tinggal diam. Setelah berkoordinasi dengan Ketua Komisi V, Nadirah Al-Habsyi menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mengambil langkah konkret.
“Insya Allah, dalam waktu tidak terlalu lama Komisi V akan turun langsung melihat kondisi bangunan tersebut. Kami juga akan segera memanggil Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) untuk dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.
Menurut Nadirah Al-Habsyi, pendidikan tidak boleh terus menjadi korban proyek bermasalah. Negara, tegasnya, wajib hadir untuk memastikan setiap anak mendapatkan fasilitas belajar yang layak, aman, dan manusiawi.

Sebelumnya, pembangunan ruang kelas dan laboratorium di SMAN 1 Parado, Kabupaten Bima, hingga kini belum rampung meski waktu pelaksanaan proyek telah jauh melewati batas yang ditetapkan. Kondisi ini diakui langsung oleh Kepala SMAN 1 Parado, Nuryadin, S.Pd, saat dikonfirmasi media ini.
“Waktu pelaksanaan tercatat sejak Desember 2024,” ujar Nuryadin.
Akibat sejumlah ruang belajar yang masih dalam tahap renovasi, pihak sekolah terpaksa memberlakukan sistem sif agar KBM tetap berjalan.
“Karena sejumlah ruang belajar masih dalam tahap renovasi, untuk memastikan dan memaksimalkan KBM tetap berjalan, kami menerapkan sistem sif, yakni masuk pagi dan sore,” tambahnya.
Nuryadin menegaskan bahwa berbagai kendala pembangunan tersebut telah melalui pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Inspektorat Provinsi NTB, namun hambatan utama masih terkait keterbatasan material bangunan, khususnya baja dan besi.
“Proses pemeriksaan oleh BPK dan Inspektorat Provinsi NTB sudah dilakukan. Untuk pendistribusian material pembangunan, itu menjadi kewenangan pihak lain,” jelasnya.
Kondisi ini semakin menambah sorotan publik terhadap lambannya penyelesaian proyek pendidikan tersebut.
Ironisnya, sejumlah ruangan sekolah kini telah ditumbuhi semak belukar akibat dibiarkan terbengkalai dan kerap tersiram air hujan, sehingga tampak seperti bangunan tak terurus layaknya ‘Rumah Hantu’. Meski demikian, pihak sekolah berharap pembangunan segera dilanjutkan.
“Sarana dan prasarana pendidikan sangat dibutuhkan untuk menunjang proses pembelajaran, terutama bagi siswa yang antusias belajar,” tegas Nuryadin.
SMAN 1 Parado sendiri dikenal memiliki alumni berprestasi. Pada seleksi TNI 2025, sekitar 20 alumni dinyatakan lulus, bahkan sebagian di antaranya kembali mengabdi sebagai tenaga pendidik di sekolah tersebut.
“Banyak alumni yang berhasil lulus seleksi, dan ada juga yang kembali mengabdi di SMAN 1 Parado,” pungkasnya.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










