Proyek Jalan Lenangguar-Lunyuk Rp19 Miliar Molor, DPRD NTB Desak PT AJP Diputus Kontrak dan Diblacklist

Avatar

- Jurnalis

Kamis, 22 Januari 2026 - 15:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pimpinan Komisi IV DPRD Provinsi NTB Hasbullah Muis Konco
saat dimintai keterangan usai memimpin rapat bersama Dinas PUPR NTB di Gedung DPRD NTB, Mataram, Kamis (22/01/2026)

Pimpinan Komisi IV DPRD Provinsi NTB Hasbullah Muis Konco saat dimintai keterangan usai memimpin rapat bersama Dinas PUPR NTB di Gedung DPRD NTB, Mataram, Kamis (22/01/2026)

SUMBAWAPOST.com | Mataram- Pimpinan Komisi IV DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang membidangi infrastruktur dan pembangunan menyoroti serius molornya proyek konstruksi jalan Lenangguar-Lunyuk di Kabupaten Sumbawa. Proyek yang seharusnya berakhir pada 31 Desember 2025 tersebut diketahui memperoleh adendum perpanjangan waktu selama 50 hari kerja, terhitung sejak 1 Januari 2026.

Sorotan itu disampaikan Hasbullah Muis Konco saat merespons aksi massa yang menggelar demonstrasi di depan Kantor Dinas PU Permukiman NTB terkait keterlambatan pengerjaan proyek jalan Lenangguar-Lunyuk. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap tuntutan massa agar perusahaan pelaksana, PT Amar Jaya Pratama (AJP) asal Aceh, diberikan sanksi tegas hingga blacklist.

“Saya sangat setuju. Kontraktor-kontraktor yang nakal seperti ini harus diberikan sanksi. Tidak boleh terlalu ditolerir. Kalau terus dibiarkan, hal seperti ini nanti akan berimbas juga ke kontrak-kontrak yang lain. Selama dia menyalahi kontrak seharusnya diberikan sanksi, sanksi keras, sanksi tegas, berupa pencabutan kontrak,” tegas Hasbullah. Pernyataan tersebut disampaikan Hasbullah usai memimpin Rapat Komisi IV bersama mitra kerja Dinas PUPR NTB di Gedung Sekretariat DPRD NTB, Jalan Udayana, Kota Mataram, Kamis (22/01/2026). Komisi IV DPRD NTB membidangi Pekerjaan Umum/Bina Marga dan Pengairan, Perencanaan Pembangunan, Permukiman dan Tata Ruang, Penataan dan Pengawasan Kota, Pertamanan dan Kebersihan, Perhubungan, Pertambangan dan Energi, serta Perumahan Rakyat.

Baca Juga :  Pemprov Dorong Produk DPRD NTB Sesuai Kebutuhan Untuk Kemajuan Pembangunan

Menurut Hasbullah, persoalan keterlambatan proyek sejatinya berbasis pada capaian progres pekerjaan. Jika kontrak diputus sesuai dengan progres yang telah dicapai, maka tidak akan menimbulkan persoalan pembayaran bagi pemerintah daerah.

“Penyebabnya itu kan berbasis progres. Jadi kalau memang diputus sesuai progres mereka, proses pembayarannya tidak ada masalah bagi daerah. Tidak perlu dikhawatirkan. Masih banyak orang lain yang bisa mengerjakan. Diputus saja,” ujarnya.

Ia menjelaskan, apabila progres pekerjaan baru mencapai sekitar 60 persen, maka pembayaran pun cukup dilakukan sesuai capaian tersebut. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 40 persen nilai pekerjaan yang belum dibayarkan.

“Jadi mereka belum dibayarkan keseluruhan karena progres mereka masih 60 persen, kan masih ada 40 persen. Jadi diputus saja,” katanya.

Terkait sanksi ganti rugi, Hasbullah menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menerapkan sistem pembayaran berbasis progres.

Menurutnya, meskipun terdapat adendum atau perpanjangan kontrak, apabila kinerja kontraktor dinilai tidak profesional, maka harus dilakukan evaluasi menyeluruh.

“Kalau capaian mereka 60 persen harus dibayarkan 60 persen. Ketika itu bermasalah dan tidak tercapai meskipun ada adendum, tapi kalau dilihat PU progres seperti itu, mereka tidak profesional, harusnya dievaluasi. Diputus saja, ngapain takut-takut, masih banyak yang mau,” tegasnya.

Ia kembali menekankan pentingnya blacklist terhadap kontraktor bermasalah agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Baca Juga :  Dua Orang Warga Meninggal di IGD Tanpa Perawat, Puskesmas Lopok Digugat Jadi Wajah Buruk Kesehatan Sumbawa

“Diblacklist saja. Pasti diblacklist. Supaya jangan terulang lagi. Supaya yang lain juga bisa dijadikan pelajaran,” ujarnya.
Menanggapi kembali tuntutan massa aksi di depan Kantor Dinas PU Permukiman NTB agar kontrak PT AJP diputus dan perusahaan tersebut di-blacklist, Hasbullah kembali menegaskan sikapnya.

“Saya sangat sepakat. Diblacklist saja. Tidak bisa kita tolerir yang begini. Uang kita ini sedikit, jadi harus betul-betul kita olah agar bermanfaat, tepat sasaran, dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi IV DPRD NTB, H. Syamsudin Madjid, turut menyoroti molornya proyek konstruksi jalan Lenangguar-Lunyuk senilai Rp19 miliar tersebut, termasuk adanya adendum atau sanksi terhadap PT Amar Jaya Pratama (AJP) selaku perusahaan pelaksana.

Ia mempertanyakan kebijakan perpanjangan kontrak yang diberikan tanpa kejelasan penerapan sanksi denda.

“Iya menegaskan, terkait perpanjang kontrak tersebut langsung diperpanjang. Saat rapat tadi musti dijawab dulu, kenapa langsung diperpanjang tanpa ada denda. Apakah karena memang kendala alam. Menurut aturan semestinya harus ada denda. Untuk lebih teknisnya ke teman-teman PU,” ungkapnya.

Sementara itu, saat dimintai keterangan terpisah, Sekretaris Dinas PU Permukiman Provinsi NTB, Ilham Ardiansyah, ST, MT, enggan memberikan komentar. Ia memilih diam dan langsung masuk ke mobil untuk kembali ke kantor.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Saat Dunia Makin Ribut, KPU NTB Ingatkan Satu Obat Ampuh: Pancasila
Dulu Terseok, Kini Ngebut Usai Utang Beres! RSUP NTB Siap Naik Kelas Jadi Rumah Sakit Pendidikan Unggulan
Hari Lahir Pancasila 2026 di NTB, Miq Iqbal Tegaskan Pancasila Adalah Jangkar Perdamaian Global
Sekolah Rakyat Pertama di Pulau Sumbawa Disiapkan di Bima, Jadi Harapan Baru Pemerataan Pendidikan NTB
KPU NTB Berkurban di Idul Adha, Agus Hilman: Yang Dinilai Bukan Dagingnya, Tapi Ketakwaannya
PKS NTB Sembelih 193 Hewan Kurban, Sebanyak 2.000 Paket Daging Dibagikan untuk Warga
Momentum Halal Bihalal Idul Adha, Harmoni Kepemimpinan Lombok Timur Tuai Apresiasi
Bahlil Lahadalia dan Sari Yuliati Salurkan Sapi Kurban untuk NTB, Golkar Potong Lima Ekor di Mataram
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 19:49 WIB

Saat Dunia Makin Ribut, KPU NTB Ingatkan Satu Obat Ampuh: Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 - 18:13 WIB

Dulu Terseok, Kini Ngebut Usai Utang Beres! RSUP NTB Siap Naik Kelas Jadi Rumah Sakit Pendidikan Unggulan

Senin, 1 Juni 2026 - 13:55 WIB

Hari Lahir Pancasila 2026 di NTB, Miq Iqbal Tegaskan Pancasila Adalah Jangkar Perdamaian Global

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:55 WIB

Sekolah Rakyat Pertama di Pulau Sumbawa Disiapkan di Bima, Jadi Harapan Baru Pemerataan Pendidikan NTB

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:04 WIB

KPU NTB Berkurban di Idul Adha, Agus Hilman: Yang Dinilai Bukan Dagingnya, Tapi Ketakwaannya

Berita Terbaru