Pemprov Tolak Beras Impor, Tapi Diawal Tahun Sebanyak 5.900 Ton Beras Dari Myanmar Masuk NTB

Avatar

- Jurnalis

Senin, 13 Januari 2025 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMBAWAPOST.com, Mataram –Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mensupport dan mengapresiasi Bulog yang berencana menyerap gabah langsung dari petani. Kebijakan ini untuk memastikan gabah tetap tersedia bagi masyarakat NTB dan menghindari adanya impor beras dari luar daerah maupun negeri.

Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi NTB Drs. H. Wirajaya Kusuma menjelaskan bahwa pemerintah Provinsi NTB bertekad tidak akan impor beras selama ketersediaan gabah atau beras tercukupi.

“Kita tidak boleh impor beras. Pemprov NTB. Akan support pihak Bulog yang berencana menyerap gabah dari petani langsung,” ungkapnya saat memimpin Rapat Koordinasi Akselerasi Penyerapan Gabah oleh Bulog NTB di ruang rapat anggrek Kantor Gubernur NTB, Senin (13/01/2025).

Sementara pada kesempatan tersebut, Wakil Pimpinan Wilayah (Wapimwil) Bulog NTB Musazdin Said menjelaskan bahwa pihak Bulog akan berencana menyerap gabah dari petani sekitar 551.000 ribu ton gabah. Hal ini sejalan dengan harapan presiden Prabowo bahwa tidak ada lagi impor komoditas seperti beras, jagung, garam dan gula pasir di tahun 2025.

“Dengan target tersebut, pihak Bulog akan memaksimalkan penyerapan gabah dari petani sehingga kebutuhan masyarakat bisa tercukupi,” jelasnya

Dijelaskannya kapasitas produksi Petani di NTB berkisar sebesar 1,4 juta ton Gabah Kering Giling, sebenarnya bisa memenuhi serapan Bulog, asal petani atau Gapoktan tidak menjual hasil produksinya ke luar daerah NTB.

Dalam rapat tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, Kepala Biro Ekonomi Setprov NTB, Wakil Kepala Bulog NTB beserta unsur perwakilan kedinasan terkait.

Baca Juga :  Motor Matic Kalah Berat! Sapi Presiden Tembus 1 Ton, 159 Kurban Tumpah di NTB-Pemprov Ikut Sumbang, Tebak Berapa?

Namun, diawal tahun 2025 sebanyak 5.900 ton beras impor asal Myanmar didatangkan Bulog NTB.

Terpisah, Sri Muniati, mengatakan, beras tersebut sebagai cadangan pemerintah atau CBP dipakai untuk kebutuhan penyaluran program bantuan pangan, stabilisasi pasokan dan harga melalui penjualan beras SPHP hingga antisipasi krisis pangan.

“Saat ini sedang berlangsung proses bongkar beras eks Myanmar sebanyak 5.900 ton di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Beras tersebut digunakan untuk penguatan stok cadangan beras pemerintah di Nusa Tenggara Barat,” ungkap Muniati, Pimpinan Wilayah Badan Urusan Logistik (Bulog) NTB. Sabtu kemarin (4/01/2025) di Mataram.

Pada 2024, pemerintah pusat telah mengadakan rapat koordinasi terbatas dalam rangka percepatan penerimaan importasi cadangan beras pemerintah. Bulog NTB melalui Pelabuhan Lembar menjadi salah satu destinasi kedatangan beras impor.

Sri mengungkapkan stok beras cadangan pemerintah yang kini dikuasai Bulog NTB masih memadai untuk memenuhi kebutuhan penyaluran selama kurun waktu tiga bulan ke depan.

Meski demikian, Bulog juga perlu memperhatikan penyediaan cadangan stok minimal untuk kebutuhan tiga bulan penyaluran berikutnya.

“Stok beras luar negeri yang baru tiba itu dapat memperkuat stok beras cadangan pemerintah di Nusa Tenggara Barat,” kata Sri.

Beras yang didatangkan dari Myanmar tersebut memicu berbagai reaksi, mengingat NTB dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional yang biasanya mengalami surplus produksi beras.

Baca Juga :  Serukan Pilkada Damai, Badko HMI Bali Nusra: Momen Pilkada Bukan Ajang Perpecahan

Menyikapi hal itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Dr. H. Fathul Gani, menegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB tidak memiliki kewenangan dalam kebijakan impor beras ini. Menurutnya, keputusan tersebut sepenuhnya merupakan kebijakan pemerintah pusat melalui Perum Bulog.

“Pemprov tidak pernah mengimpor beras. Tetapi kita harus memahami bahwa ini adalah kebijakan nasional,” ujar Fathul Gani.

Berdasarkan koordinasi antara Pemprov NTB dan Bulog, beras impor dari Myanmar ini diperuntukkan sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Beras tersebut tidak akan diperjualbelikan di pasar lokal NTB dan hanya digunakan untuk program bantuan pangan pada tahun 2025.

“Semua beras ini disimpan di gudang Bulog. Beras hanya akan dikeluarkan untuk situasi darurat atau program bantuan pangan. Jadi, tidak akan dilepas ke pasar,” jelas Gani.

Masuknya beras impor ini tidak akan mempengaruhi harga gabah di NTB, meskipun saat ini petani lokal tengah memasuki masa panen padi di Lombok. Gani memastikan mekanisme pasar tetap berjalan normal dengan dominasi beras lokal di pasar.

“Kita pastikan harga gabah tetap stabil. Beras impor ini tidak akan memengaruhi mekanisme pasar karena tidak dilepas di pasar lokal. Koordinasi dengan Bulog terus dilakukan untuk menjaga harga,” terangnya.

Gani menegaskan bahwa Pemprov NTB tidak memiliki opsi untuk menolak masuknya beras impor ini karena merupakan bagian dari kebijakan nasional.

Berita Terkait

Pesisir NTB Terancam Tenggelam, Kepala Bappeda Ingatkan Dampak Perubahan Iklim dan Kenaikan Laut
Tak Hanya Jaga NKRI, Dandim 1608/Bima Peduli Pendidikan Lewat Beasiswa Mahasiswa STIS
Gubuk Talabiu Jadi Sarang Sabu, Satresnarkoba Polres Bima Bongkar Jaringan dan Ungkap Tiga Identitas Pelaku
Pasutri di Bolo Bima Kompak Jual Sabu, Kini Keduanya Cek In Masuk Sel
Akhir Perjuangan Mahasiswa Perantau Kaltara: Asrama Rp18 Miliar Resmi Berdiri di Sumbawa
Bukan Ditangani Kejati, Kasus Gratifikasi DPRD NTB Dialihkan ke Kejari Mataram
3.500 Kantong Darah per Bulan Dibutuhkan, DPC Demokrat Kota Mataram Ambil Peran Gelar Donor Darah
Arahan Presiden Prabowo: Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Konsumsi Jamaah Haji Nasional
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 15:33 WIB

Pesisir NTB Terancam Tenggelam, Kepala Bappeda Ingatkan Dampak Perubahan Iklim dan Kenaikan Laut

Minggu, 18 Januari 2026 - 14:27 WIB

Tak Hanya Jaga NKRI, Dandim 1608/Bima Peduli Pendidikan Lewat Beasiswa Mahasiswa STIS

Minggu, 18 Januari 2026 - 11:42 WIB

Gubuk Talabiu Jadi Sarang Sabu, Satresnarkoba Polres Bima Bongkar Jaringan dan Ungkap Tiga Identitas Pelaku

Sabtu, 17 Januari 2026 - 21:12 WIB

Pasutri di Bolo Bima Kompak Jual Sabu, Kini Keduanya Cek In Masuk Sel

Sabtu, 17 Januari 2026 - 18:48 WIB

Akhir Perjuangan Mahasiswa Perantau Kaltara: Asrama Rp18 Miliar Resmi Berdiri di Sumbawa

Berita Terbaru

Pasangan suami istri terduga pelaku peredaran narkoba jenis sabu saat diamankan di Mapolsek Bolo, Polres Bima, Polda NTB. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan 15 poket sabu, uang tunai Rp7,17 juta, serta sejumlah barang bukti lainnya.

Hukum & Kriminal

Pasutri di Bolo Bima Kompak Jual Sabu, Kini Keduanya Cek In Masuk Sel

Sabtu, 17 Jan 2026 - 21:12 WIB