SUMBAWAPOST.com |™ Mataram- Tingkat hunian Hotel di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami penurunan pada September 2026. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat hanya 44,86 persen, merosot 6,93 poin dibandingkan Agustus 2026.
Penurunan juga terjadi pada hotel Non-Bintang. Tingkat penghunian kamar pada kelompok hotel tersebut tercatat sebesar 31,17 persen atau turun 0,87 poin secara bulanan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menyampaikan bahwa perkembangan indikator Pariwisata tersebut merupakan bagian dari dinamika kunjungan wisatawan dan mobilitas Masyarakat di NTB.
Data tersebut dipaparkan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS NTB di Aula Tambora, Kantor BPS Provinsi NTB, Senin (2/11/2026).
Penurunan tingkat hunian hotel terjadi bersamaan dengan berkurangnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun perjalanan wisatawan nusantara pada September 2026.
“BPS mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid sebanyak 7.657 Orang. Jumlah tersebut turun 18,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya,”ujarnya.
Sementara itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1.294.580 perjalanan atau mengalami penurunan 4,53 persen secara bulanan.
Meski mengalami penurunan dibandingkan Agustus, perjalanan wisatawan nusantara masih tumbuh 1,99 persen dibandingkan September 2025.
Menurut Wahyudin, perkembangan indikator Pariwisata dan transportasi pada September perlu dilihat dalam konteks dinamika mobilitas masyarakat serta pergerakan kunjungan setelah periode puncak perjalanan pada bulan sebelumnya.
“Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran perkembangan sektor pariwisata NTB, terutama dari sisi tingkat hunian akomodasi dan pergerakan wisatawan,”terang Wahyudin.
TPK merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat pemanfaatan fasilitas kamar hotel dalam periode tertentu.
Penurunan TPK hotel berbintang maupun nonbintang, Sambung Wahyudin, menunjukkan berkurangnya tingkat pemanfaatan kamar dibandingkan bulan sebelumnya.
“Penurunan sejumlah indikator pariwisata tersebut menjadi perhatian dalam upaya menjaga momentum pertumbuhan sektor pariwisata NTB,”ujarnya.
Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, penguatan sektor akomodasi juga penting untuk menjaga tingkat hunian hotel, baik berbintang maupun nonbintang.
Berdasarkan data BPS, sektor Pariwisata NTB pada September 2026 menghadapi tekanan dari sisi tingkat penghunian kamar dan kunjungan wisatawan mancanegara.
“Meski demikian, pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara secara tahunan masih memberikan sinyal positif bagi pergerakan Pariwisata Domestik,”imbuhnya.
Perkembangan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemangku kepentingan untuk memperkuat promosi destinasi, meningkatkan daya tarik wisata, serta menjaga keberlanjutan aktivitas pariwisata di NTB.
Penulis : SUMBAWAPOST.com











