SUMBAWAPOST.com |™ Mataram- Menjelang Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-XXXIII di Bandar Lampung, Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) HMI Bali-Nusra, Caca Handika, menegaskan pentingnya keberanian kader dalam menentukan arah masa depan organisasi. Menurutnya, kongres tidak boleh sekadar menjadi ajang perebutan kursi Ketua Umum, tetapi harus menjadi momentum memperkuat Kaderisasi, menjaga Independensi, dan menegaskan keberpihakan HMI terhadap kepentingan Rakyat Indonesia.
Caca menekankan, keberanian dalam kontestasi Kepemimpinan harus diwujudkan melalui gagasan, keteguhan prinsip, serta komitmen memperjuangkan Kepentingan Bangsa. Ia mengingatkan agar semangat keberanian tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi landasan dalam menentukan arah perjuangan Organisasi.
“Saya ingin memberikan penegasan, jika para Kandidat mengawali dengan BERANI, pasti untuk INDONESIA bukan untuk dibungkam, bukan untuk jadi Boneka. Karena barang siapa yang BERANI merancang masa depan maka dia akan keluar jadi pemenang,” tegas Caca Handika, Senin (19/10/2026).
Menurut Caca, keberanian Seorang Calon Pemimpin tidak cukup diukur dari kemampuannya memenangkan kontestasi. Lebih dari itu, Kepemimpinan harus tercermin melalui kualitas gagasan, keteguhan prinsip, dan kesanggupan mempertanggungjawabkan arah perjuangan organisasi setelah memperoleh mandat.
Pemilihan Pemimpin merupakan bagian penting dalam kehidupan Demokrasi, baik di lembaga Negara maupun Organisasi Kemahasiswaan. Dalam tradisi HMI, kontestasi Kepemimpinan memiliki arti strategis karena keputusan Kongres akan memengaruhi arah gerakan Organisasi dan Proses Kaderisasi pada masa mendatang.
HMI merupakan organisasi mahasiswa yang didirikan di Yogyakarta pada 5 Februari 1947, dua tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Dengan jaringan kader yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, HMI memiliki sejarah panjang dalam dinamika Intelektual, Kemahasiswaan, dan Kebangsaan.
Kongres HMI ke-XXXIII dijadwalkan berlangsung di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada 28 November hingga 11 Desember 2026. Beredarnya brosur dan Surat-surat persiapan kongres di berbagai Platform Media Sosial turut membangun antusiasme Kader untuk mengambil bagian dalam agenda Nasional tersebut.
Namun, Caca mengingatkan bahwa tingginya antusiasme menjelang Kongres harus diimbangi dengan Kedewasaan dalam berorganisasi. Kontestasi Kepemimpinan, menurutnya, tidak boleh terjebak dalam persaingan Personal, Transaksi Kepentingan, ataupun perdebatan mengenai pembagian jabatan.
“Sebab, ukuran keberhasilan kongres bukan hanya siapa yang terpilih, melainkan arah perjuangan apa yang ditetapkan dan seberapa kuat Organisasi mampu menjalankannya,” imbuhnya.
Caca menegaskan bahwa dinamika kongres harus tetap ditempatkan dalam perspektif Kaderisasi. Kongres merupakan ruang pembelajaran Demokrasi, Pertarungan Gagasan, sekaligus kesempatan bagi Kader untuk menentukan arah Organisasi yang lebih baik.
“Apapun dinamikanya dalam kontestasi tersebut, Kita tetap melihat dalam sudut pandang Proses Kaderisasi. Sebab kongres HMI bukan Semata-mata tentang memilih Ketua Umum, bukan hanya tentang Perebutan Kekuasaan, bukan tentang Siapa dapat Posisi apa. Tetapi Kongres adalah kesempatan bagi Kader untuk menentukan arah Organisasi ke depan untuk lebih baik,” demikian penegasan Caca, mantan Ketua Umum HMI Cabang Dompu.
Menurut pria kelahiran Bima tersebut, semakin dekat pelaksanaan kongres, semakin penting bagi seluruh Kader untuk memastikan bahwa gagasan para kandidat tidak hanya disampaikan kepada Peserta, tetapi juga dipahami, diperdebatkan secara kritis, dan dijadikan pertimbangan dalam menentukan masa depan HMI.
Dalam Organisasi Kader, Caca menilai kualitas kepemimpinan semestinya tidak hanya diukur dari kekuatan dukungan atau kemampuan membangun koalisi. Kepemimpinan juga perlu dinilai melalui kejernihan visi, konsistensi sikap, kemampuan mengelola perbedaan, serta keberanian mengambil keputusan berdasarkan Kepentingan Organisasi.
Karena itu, ia berharap kongres menjadi ruang bagi para kandidat untuk menjelaskan secara terbuka berbagai persoalan mendasar HMI. Mulai dari Kualitas Kaderisasi, penguatan tradisi intelektual, Independensi Organisasi, hingga kontribusi nyata dalam menjawab persoalan Masyarakat yang dinilainya masih luput dari perhatian HMI.
Caca mengingatkan, apabila kongres hanya berpusat pada persaingan figur dan pembagian Posisi, Organisasi berisiko kehilangan kesempatan untuk mengevaluasi diri dan merumuskan pembaruan.
“Sebaliknya, apabila gagasan ditempatkan sebagai pusat perdebatan, Kongres dapat menjadi ruang Pendidikan Politik yang mendewasakan Kader,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, Caca menegaskan bahwa keberanian yang dibutuhkan HMI bukan semata-mata keberanian untuk maju sebagai kandidat. Keberanian juga harus diwujudkan melalui sikap kritis, keterbukaan terhadap perbedaan, serta kemampuan menguji gagasan secara rasional.
“Keberanian juga berarti kesediaan mengkritik Keadaan, menerima Perbedaan, menguji gagasan secara Rasional, dan menjaga Prinsip Organisasi meskipun berhadapan dengan tekanan Kepentingan,” bebernya.
Caca juga mengajak seluruh Kader merefleksikan kembali akar Sejarah dan Karakter HMI. Menurutnya, keberadaan Organisasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari tradisi pendidikan, kehidupan Kampus, Pesantren, serta Forum-forum Intelektual yang membentuk karakter Kader.
“Kalau kita mencoba merefleksikan kembali bahwa HMI, dia tidak lahir di ruang-ruang istana, dia tidak tumbuh di Elite-elite Kekuasaan, tapi HMI lahir dan tumbuh di Pondok-pondok pesantren, di Ruang-ruang kampus, di Forum-forum intelektual. Itulah sebabnya yang menjadikan alasan mengapa HMI masih tetap tumbuh dan eksis sampai sekarang,” ungkapnya.
Refleksi tersebut, menurut Caca, menjadi pengingat pentingnya menjaga independensi Organisasi menjelang Kongres. Kedekatan dengan kekuasaan tidak semestinya menjadi ukuran utama keberhasilan HMI. Organisasi justru perlu menjaga jarak kritis agar tetap mampu menyampaikan evaluasi secara objektif tanpa menutup ruang dialog dengan Pemerintah.
“Yang lebih menentukan adalah kemampuan menjaga jarak kritis, menyampaikan evaluasi secara Objektif, serta tetap membuka ruang dialog dengan Pemerintah tanpa kehilangan keberpihakan terhadap Kepentingan Publik,” katanya.
Dalam kehidupan demokrasi, sambung Caca, Organisasi Mahasiswa tidak hanya dibutuhkan sebagai mitra pemerintah, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan Masyarakat sipil yang dapat mengawasi kebijakan, menyampaikan kritik berbasis argumentasi, dan menawarkan alternatif penyelesaian masalah.
Dengan posisi tersebut, HMI diharapkan tidak terjebak menjadi alat kepentingan kelompok tertentu. Organisasi harus tetap memiliki kebebasan dalam menentukan sikap berdasarkan nilai, prinsip, dan kepentingan Masyarakat luas.
Menjelang Kongres HMI XXXIII, tantangan yang perlu dijawab bukan hanya mengenai sosok yang akan memimpin organisasi, tetapi juga bagaimana memastikan HMI tetap relevan dalam menghadapi persoalan bangsa.
Caca menilai kepemimpinan baru harus mampu memperkuat tradisi intelektual, menjaga integritas Kaderisasi, dan menghidupkan keberanian menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
“Kepemimpinan baru harus mampu memperkuat Tradisi Intelektual, menjaga Integritas Kaderisasi, dan menghidupkan keberanian menyampaikan Kritik secara bertanggung jawab,” cetusnya.
Ia kembali menegaskan bahwa HMI harus terus mempelopori gerakan intelektual dan moral, bukan menjadi Organisasi penekan demi kepentingan kelompok tertentu. Menurutnya, HMI harus mengambil peran sebagai jembatan antara kepentingan Masyarakat dan Pemerintah tanpa kehilangan Independensi dalam menyampaikan sikap.
“Maka oleh karena demikian, Kader HMI harus tetap memastikan bahwa Organisasi HMI akan terus mempelopori gerakan Intelektual dan Moral, bukan sebagai Organisasi penekan kelompok kepentingan. HMI harus berada di tengah untuk menjembatani antara kepentingan Masyarakat dengan Pemerintah, dan pastikan HMI tetap berani bicara atas nama kepentingan Rakyat Indonesia. Bukan untuk dibungkam,” tegas Caca.
Pesan Ketua Umum Badko HMI Bali-Nusra tersebut menjadi pengingat bagi para kandidat dan seluruh kader bahwa keberhasilan Kongres tidak Semata-mata ditentukan oleh terpilihnya seorang ketua umum. Lebih dari itu, kongres perlu menghasilkan arah perjuangan yang jelas, program yang terukur, dan komitmen bersama untuk menjaga independensi Organisasi.
“Kongres seharusnya tidak hanya melahirkan Seorang Ketua Umum, tetapi juga menghasilkan arah perjuangan yang jelas, program yang terukur, serta komitmen untuk menjaga Independensi Organisasi,” tegasnya.
Pada akhirnya, Caca menilai keberanian tidak dibuktikan melalui kerasnya slogan, melainkan melalui konsistensi sikap dan kesediaan memperjuangkan kebenaran.
“Pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang sekadar mampu memenangkan pertarungan internal, melainkan mereka yang sanggup menjaga marwah Organisasi dan memastikan suara Rakyat tetap mendapat ruang,” terangnya.
Ia juga kembali menegaskan bahwa Kongres HMI XXXIII harus menjadi momentum untuk menguji keberanian, bukan sekadar menghitung kekuatan. Ketika gagasan dikalahkan oleh kepentingan, organisasi berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, intelektualitas, moralitas, dan keberpihakan kepada Rakyat dapat menjadi pijakan untuk memperkuat peran HMI bagi masa depan Indonesia.
“Namun, ketika Intelektualitas, Moralitas, dan keberpihakan kepada Rakyat menjadi pijakan, HMI memiliki kesempatan untuk memperkuat perannya bagi masa depan Indonesia,” pesannya.
“Berani merancang masa depan. Berani menjaga independensi. Berani berbicara untuk Indonesia, bukan untuk dibungkam, bukan jadi boneka kekuasaan,” pungkasnya.
Penulis : SUMBAWAPOST.com











