SUMBAWAPOST.com, MATARAM – Aksi brutal debt collector (DC) di Lombok kian merajalela. Tak hanya menarik kendaraan dengan paksa, mereka juga diduga melakukan pemerasan terhadap pemilik kendaraan. Forum Rakyat NTB pun mengecam keras tindakan premanisme ini dan menuntut aparat segera bertindak.
Ketua Forum Rakyat NTB, Hendra, menegaskan bahwa aksi para DC ini bertentangan dengan hukum. “Ini tidak boleh terjadi! Kita ini negara hukum, bukan negara preman,” tegasnya. Rabu 12 Maret 2025.
Kasus terbaru terjadi di Polsek Sandubaya, Mataram, pada 11 Maret 2025. Saat wartawan tengah menginvestigasi maraknya aksi DC preman, sebuah mobil pick-up tiba-tiba dibawa ke Polsek oleh seorang debt collector berinisial M yang ternyata mantan narapidana. Tak lama kemudian, pihak dari BFI Finance datang menemui pemilik kendaraan.
Forum Rakyat NTB mencurigai adanya kongkalikong antara perusahaan pembiayaan dengan debt collector. “BFI diduga menyewa jasa DC untuk mengambil unit dengan cara premanisme! Ini jelas melanggar hukum,” geram Hendra.
Hendra juga mengungkap bahwa M bekerja di perusahaan DC, PT LNI, yang direkturnya, Ahmad Subandi, saat ini ditahan polisi karena kasus penganiayaan. “Ini membuktikan bahwa jaringan debt collector ini beroperasi dengan gaya preman. OJK NTB harus segera mengevaluasi BFI dan perusahaan finance lainnya sebelum konflik semakin besar,” tandasnya.
Sementara itu, pemilik mobil pick-up, Farhan, mengaku kendaraannya disita di tengah jalan oleh oknum DC saat sopirnya hendak mengisi BBM. “Driver saya dipaksa ikut ke kantor, kunci dicabut, dan mobil langsung dibawa ke gudang BFI. Saya datang ke kantor BFI, tapi mereka pura-pura tidak tahu keberadaan mobil saya,” ungkapnya dengan kesal.
Sopir kendaraan juga mengaku diperdaya. “Mereka bilang cuma mau cek dan kasih surat, tapi begitu sampai di kantor, mobil langsung disita,” ujarnya.
Kasus ini semakin memperjelas wajah debt collector yang bertindak semena-mena tanpa takut hukum. Warga berharap aparat segera turun tangan agar praktik premanisme ini tidak semakin menjadi-jadi.










