Harga LPG 3 Kg di Kota Bima Tembus Rp50 Ribu, Pemkot, Polisi dan TNI Perketat Pengawasan Distribusi

Avatar

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 18:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana rapat koordinasi dan pembahasan distribusi LPG 3 Kg bersubsidi di Kota Bima yang melibatkan DPRD, Pemerintah Kota Bima, aparat kepolisian, dan TNI untuk mengatasi kelangkaan serta lonjakan harga gas subsidi.

Suasana rapat koordinasi dan pembahasan distribusi LPG 3 Kg bersubsidi di Kota Bima yang melibatkan DPRD, Pemerintah Kota Bima, aparat kepolisian, dan TNI untuk mengatasi kelangkaan serta lonjakan harga gas subsidi.

SUMBAWAPOST.com | Kota Bima-Melonjaknya harga LPG 3 kilogram bersubsidi hingga menyentuh angka Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per tabung di tingkat pengecer mendorong Pemerintah Kota Bima bersama aparat kepolisian dan TNI memperketat pengawasan distribusi gas subsidi di seluruh wilayah kota.

Persoalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena selain berdampak pada daya beli masyarakat, juga memicu berbagai keluhan terkait kelangkaan dan tingginya harga LPG 3 Kg di lapangan.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bima, Ruslan, mengungkapkan bahwa gejolak harga masih terjadi di tengah masyarakat. Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan jajarannya, ditemukan sejumlah pangkalan mengalami keterbatasan stok yang kemudian berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.

Ruslan menjelaskan, Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kilogram di Provinsi Nusa Tenggara Barat telah ditetapkan sebesar Rp18 ribu per tabung. Namun dalam praktiknya, masyarakat masih membeli gas bersubsidi dengan harga jauh di atas ketentuan tersebut.

“Di tingkat pengecer bahkan ditemukan harga antara Rp25 ribu sampai Rp45 ribu per tabung,” kata Ruslan.

Baca Juga :  Wali Kota Bima di Jakarta: Bukan Cari Makan, Tapi Cari Mitra Bangun Kota

Menurutnya, pemerintah telah memberikan teguran kepada pangkalan yang terbukti melanggar aturan distribusi. Bahkan, sanksi yang dapat diberikan meliputi pengurangan kuota hingga usulan pembekuan dan pencabutan izin melalui agen penyalur.

Sementara itu, Bagian Ekonomi Setda Kota Bima menilai tingginya harga LPG dipicu oleh masih adanya pangkalan yang memberikan ruang kepada pengecer untuk membeli dan menjual kembali gas bersubsidi. Praktik tersebut menciptakan rantai distribusi tambahan yang berujung pada kenaikan harga di tingkat masyarakat.

Selain itu, LPG subsidi juga masih digunakan oleh kelompok yang bukan menjadi sasaran utama penerima manfaat, termasuk sebagian pelaku usaha, petani, dan nelayan yang seharusnya menggunakan skema energi berbeda sesuai ketentuan yang berlaku.

Kapolres Bima Kota AKBP Mubiarto menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan dan inspeksi lapangan melalui Satuan Reserse Kriminal guna memastikan distribusi LPG berjalan sesuai aturan.

Ia memastikan stok LPG di Kota Bima masih dalam kondisi aman sehingga masyarakat tidak perlu melakukan pembelian secara berlebihan.

“Kami akan terus melakukan pengawasan bersama pemerintah daerah. Empat pilar di tingkat kelurahan, yaitu lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan unsur masyarakat akan dilibatkan dalam pemantauan distribusi,” ujarnya.

Baca Juga :  Comeback Wali Kota Bima! Buka Festival Ramadhan, Langsung Sentil Masalah Kota yang 'Kumuh dan Jorok'

Dari unsur TNI, Kasdim 1608/Bima Mayor Infanteri Asep Okinawa Muas mengusulkan penerapan sistem kupon bagi penerima manfaat LPG bersubsidi agar distribusi lebih terkontrol dan tepat sasaran.

Ia juga mendorong pelaksanaan razia terhadap pelaku usaha yang tidak termasuk kategori penerima manfaat namun masih menggunakan LPG bersubsidi.

“Tujuan utama kita adalah menjaga stabilitas harga dan memastikan gas subsidi benar-benar diterima masyarakat yang berhak,” kata Asep.

Sebelumnya, persoalan LPG 3 kilogram juga menjadi pembahasan dalam rapat kerja DPRD Kota Bima bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yang berlangsung di Ruang Banggar DPRD Kota Bima, Jumat (13/6/2026), dipimpin Wakil Ketua II DPRD Kota Bima, M. Ryan Kusuma Permadi, SH.

Dalam rapat tersebut, Ryan menyoroti harga LPG 3 Kg yang di tingkat masyarakat dilaporkan mencapai Rp50 ribu per tabung, jauh melampaui HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp18 ribu per tabung.

Menurutnya, selain persoalan harga dan kelangkaan, distribusi LPG bersubsidi juga harus menjadi perhatian serius karena masih ditemukan penggunaan yang tidak sesuai peruntukan. Ia menegaskan bahwa pengurangan alokasi LPG 3 Kg tidak hanya terjadi di Kota Bima, tetapi juga di sejumlah daerah lain di Indonesia.

“Kita harus memastikan LPG bersubsidi benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak. Pengawasan distribusi harus diperketat agar tidak terjadi merugikan masyarakat,” tegasnya.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Pernah Jadi Orang Nomor Satu di Polri, Kini Tersangka! Ini Jejak Karier dan Kekayaan Jenderal Bintang Empat Listyo Sigit
Geger Kabar Sejumlah Jenderal Polri Ditangkap dan Diamankan di Mako Brimob, Ini Respons Mabes Polri
Bikin ASN Betah Ngantor, Wagub NTB Puji Disnakertrans Sulap Pekarangan Jadi Kebun Produktif
Okupansi Hotel di NTB Merosot, Tingkat Hunian Hotel Berbintang Turun Jadi 44,86 Persen
Bukan Sekadar Terima Beasiswa, 100 Mahasiswa Unram Ditantang Jadi Penggerak Pertanian Modern
Tak Cuma Beri Beasiswa ke Mahasiswa Unram, JHL Siapkan Investasi Pabrik Kelapa di NTB
100 Mahasiswa Pertanian Unram Terima Beasiswa Kelapa dari Yayasan JHL Merah Putih Kasih
Ekspor NTB Tembus Rp6,94 Triliun, Daya Tukar Petani Menguat, Produksi Padi dan Jagung Naik
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 21:45 WIB

Pernah Jadi Orang Nomor Satu di Polri, Kini Tersangka! Ini Jejak Karier dan Kekayaan Jenderal Bintang Empat Listyo Sigit

Selasa, 3 November 2026 - 17:05 WIB

Geger Kabar Sejumlah Jenderal Polri Ditangkap dan Diamankan di Mako Brimob, Ini Respons Mabes Polri

Selasa, 3 November 2026 - 13:11 WIB

Bikin ASN Betah Ngantor, Wagub NTB Puji Disnakertrans Sulap Pekarangan Jadi Kebun Produktif

Selasa, 3 November 2026 - 08:07 WIB

Okupansi Hotel di NTB Merosot, Tingkat Hunian Hotel Berbintang Turun Jadi 44,86 Persen

Senin, 2 November 2026 - 17:44 WIB

Bukan Sekadar Terima Beasiswa, 100 Mahasiswa Unram Ditantang Jadi Penggerak Pertanian Modern

Berita Terbaru