Di tengah perdebatan Publik soal sosok Soeharto, sekelompok Mahasiswa di Nusa Tenggara Barat (NTB) justru tampil berani. Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) NTB resmi mendeklarasikan dukungan agar Presiden ke-2 RI itu diberi gelar Pahlawan Nasional. Bagi mereka, jasa Soeharto terlalu besar untuk dilupakan dan terlalu dalam untuk dihapus dari sejarah bangsa.
SUMBAWAPOST.com, Mataram-Suasana di Café Upnormal, Mataram, Sabtu (8/11), mendadak berapi-api. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) NTB menggelar deklarasi dan diskusi publik bertajuk ‘Mendukung Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto.’ Kegiatan ini bukan acara biasa melainkan bagian dari gerakan nasional AMAN yang serentak digelar di berbagai provinsi Indonesia, menandai gelombang baru apresiasi terhadap sosok Presiden ke-2 RI itu.
Koordinator AMAN NTB, Hamzan Watoni, menegaskan, gerakan ini adalah simbol kebangkitan kesadaran anak muda agar tak tercerabut dari akar sejarah bangsanya.
“Hari ini puluhan wilayah di Indonesia mendeklarasikan AMAN secara serentak, termasuk NTB. Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda tidak boleh tercerabut dari akar sejarah bangsanya. Tema pemberian gelar pahlawan untuk Pak Soeharto kami pilih karena kami menilai ada banyak jasa besar beliau yang patut diakui secara nasional,” ujar Hamzan.
Menurut Hamzan, Soeharto bukan sekadar nama dalam buku sejarah, tapi figur yang meletakkan dasar pembangunan nasional dengan kerja nyata dan kedisiplinan yang kini mulai langka.
“Pemberian gelar pahlawan untuk Pak Harto adalah bentuk pengakuan bahwa pembangunan, stabilitas, dan kedisiplinan bukan sekadar kebijakan masa lalu, melainkan fondasi etis dari keindonesiaan,” tegasnya.
Turut hadir Prof. Dr. Ir. Lalu Wirasapta Karyadi, M.Si, yang menilai Soeharto sebagai tokoh transisi bangsa yang membawa Indonesia keluar dari masa kelam menuju masa pembangunan terarah.
“Pak Soeharto meninggalkan jejak abadi dalam sejarah Indonesia. Ia tidak hanya membangun gedung, jalan, dan bendungan, tetapi juga membangun rasa percaya diri bangsa ini, bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, swasembada beras di era Soeharto bukan hanya soal pangan, melainkan simbol kedaulatan bangsa.
“Swasembada beras di era Soeharto bukan hanya simbol keberhasilan teknis, tetapi juga simbol kedaulatan ekonomi bangsa,” kata Wirasapta.
Sementara itu, Dr. Andi Chairil Ikhsan, S.Hut., M.Si, menyoroti gaya kepemimpinan Soeharto yang sistematis dan berorientasi rakyat.
“Pembangunan di masa Soeharto bukan proyek sesaat, melainkan strategi jangka panjang berlandaskan disiplin dan keteraturan,” ujarnya.
Ia menilai, gelar pahlawan bagi Soeharto adalah bentuk kedewasaan bangsa.
“Memberi gelar pahlawan kepada Pak Harto bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, tetapi menandakan kematangan bangsa dalam berdamai dengan masa lalu,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari Koordinator Pusat BEM SI, Herianto S.P, yang menilai NTB hingga kini masih menikmati hasil pembangunan era Soeharto.
“Pertanian di NTB tidak lepas dari nama besar Pak Soeharto. Banyak bendungan, saluran irigasi, dan proyek pertanian yang hingga kini menjadi penopang ekonomi masyarakat, semua itu adalah hasil kerja keras beliau,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan dari desa ke kota yang digagas Soeharto masih relevan hingga kini.
“Untuk pemimpin yang memiliki jasa besar dalam memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan taraf hidup rakyat, sudah sepantasnya diberikan penghargaan tertinggi berupa gelar pahlawan nasional,” tandasnya.
Acara ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dan sesi foto bersama seluruh peserta. Di tengah hiruk pikuk zaman digital, AMAN NTB ingin mengingatkan bangsa ini tidak ada masa depan tanpa menghargai masa lalu.









