AMAN NTB Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional: Jasa Beliau Tak Bisa Dihapus Sejarah

Avatar

- Jurnalis

Sabtu, 8 November 2025 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah perdebatan Publik soal sosok Soeharto, sekelompok Mahasiswa di Nusa Tenggara Barat (NTB) justru tampil berani. Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) NTB resmi mendeklarasikan dukungan agar Presiden ke-2 RI itu diberi gelar Pahlawan Nasional. Bagi mereka, jasa Soeharto terlalu besar untuk dilupakan dan terlalu dalam untuk dihapus dari sejarah bangsa.

SUMBAWAPOST.com, Mataram-Suasana di Café Upnormal, Mataram, Sabtu (8/11), mendadak berapi-api. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) NTB menggelar deklarasi dan diskusi publik bertajuk ‘Mendukung Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto.’ Kegiatan ini bukan acara biasa  melainkan bagian dari gerakan nasional AMAN yang serentak digelar di berbagai provinsi Indonesia, menandai gelombang baru apresiasi terhadap sosok Presiden ke-2 RI itu.

Koordinator AMAN NTB, Hamzan Watoni, menegaskan, gerakan ini adalah simbol kebangkitan kesadaran anak muda agar tak tercerabut dari akar sejarah bangsanya.

“Hari ini puluhan wilayah di Indonesia mendeklarasikan AMAN secara serentak, termasuk NTB. Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda tidak boleh tercerabut dari akar sejarah bangsanya. Tema pemberian gelar pahlawan untuk Pak Soeharto kami pilih karena kami menilai ada banyak jasa besar beliau yang patut diakui secara nasional,” ujar Hamzan.

Baca Juga :  IMM NTB Tolak Kenaikan Harga BBM, Desak Pemerintah Kaji Ulang Kebijakan

Menurut Hamzan, Soeharto bukan sekadar nama dalam buku sejarah, tapi figur yang meletakkan dasar pembangunan nasional dengan kerja nyata dan kedisiplinan yang kini mulai langka.

“Pemberian gelar pahlawan untuk Pak Harto adalah bentuk pengakuan bahwa pembangunan, stabilitas, dan kedisiplinan bukan sekadar kebijakan masa lalu, melainkan fondasi etis dari keindonesiaan,” tegasnya.

Turut hadir Prof. Dr. Ir. Lalu Wirasapta Karyadi, M.Si, yang menilai Soeharto sebagai tokoh transisi bangsa yang membawa Indonesia keluar dari masa kelam menuju masa pembangunan terarah.

“Pak Soeharto meninggalkan jejak abadi dalam sejarah Indonesia. Ia tidak hanya membangun gedung, jalan, dan bendungan, tetapi juga membangun rasa percaya diri bangsa ini, bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tuturnya.

Ia menambahkan, swasembada beras di era Soeharto bukan hanya soal pangan, melainkan simbol kedaulatan bangsa.
“Swasembada beras di era Soeharto bukan hanya simbol keberhasilan teknis, tetapi juga simbol kedaulatan ekonomi bangsa,” kata Wirasapta.

Sementara itu, Dr. Andi Chairil Ikhsan, S.Hut., M.Si, menyoroti gaya kepemimpinan Soeharto yang sistematis dan berorientasi rakyat.
“Pembangunan di masa Soeharto bukan proyek sesaat, melainkan strategi jangka panjang berlandaskan disiplin dan keteraturan,” ujarnya.

Baca Juga :  Mori Hanafi Lantik dr. H. Irfan sebagai Ketua KONI Kabupaten Bima, Siap Cetak Atlet Berprestasi untuk NTB

Ia menilai, gelar pahlawan bagi Soeharto adalah bentuk kedewasaan bangsa.
“Memberi gelar pahlawan kepada Pak Harto bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, tetapi menandakan kematangan bangsa dalam berdamai dengan masa lalu,” tegasnya.

Dukungan juga datang dari Koordinator Pusat BEM SI, Herianto S.P, yang menilai NTB hingga kini masih menikmati hasil pembangunan era Soeharto.

“Pertanian di NTB tidak lepas dari nama besar Pak Soeharto. Banyak bendungan, saluran irigasi, dan proyek pertanian yang hingga kini menjadi penopang ekonomi masyarakat, semua itu adalah hasil kerja keras beliau,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan dari desa ke kota yang digagas Soeharto masih relevan hingga kini.

“Untuk pemimpin yang memiliki jasa besar dalam memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan taraf hidup rakyat, sudah sepantasnya diberikan penghargaan tertinggi berupa gelar pahlawan nasional,” tandasnya.

Acara ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dan sesi foto bersama seluruh peserta. Di tengah hiruk pikuk zaman digital, AMAN NTB ingin mengingatkan bangsa ini tidak ada masa depan tanpa menghargai masa lalu.

 

Berita Terkait

Ketua KPID NTB Edukasi Mahasiswa Bijak Bermedia, A. Rachman Chavez Tegaskan KPID Awasi Siaran, Bukan Perizinan
Kawasan Kumuh Sumbawa Disorot Pemerintah Pusat, KSP dan Kementerian PKP Turun Tangan
Gubernur Iqbal Tantang Kadin NTB, Jangan Sekadar Seremonial, Jadilah Penggerak Ekonomi Rakyat
Faurani Kembali Dikukuhkan Pimpin Kadin NTB Periode 2025-2030, Ini Komitmennya
SMRC Ungkap Biang Kerok Elektabilitas Prabowo Merosot, Dedi Mulyadi Kini Jadi Ancaman Politik Baru
Survei SMRC Bikin Kejutan: Dedi Mulyadi 35%, Prabowo 14,5% Jika Pilpres Digelar Hari Ini
Bupati Sumbawa Jemput Bola ke NAM Air, Dorong Rute Baru Pacu Investasi dan Ekonomi
Gubernur NTB Siapkan Langkah Tegas Berantas Narkoba, Miq Iqbal: Pekan Depan Arah Penanganan Diputuskan
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:57 WIB

Ketua KPID NTB Edukasi Mahasiswa Bijak Bermedia, A. Rachman Chavez Tegaskan KPID Awasi Siaran, Bukan Perizinan

Rabu, 29 Juli 2026 - 21:31 WIB

Kawasan Kumuh Sumbawa Disorot Pemerintah Pusat, KSP dan Kementerian PKP Turun Tangan

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:40 WIB

Gubernur Iqbal Tantang Kadin NTB, Jangan Sekadar Seremonial, Jadilah Penggerak Ekonomi Rakyat

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:03 WIB

Faurani Kembali Dikukuhkan Pimpin Kadin NTB Periode 2025-2030, Ini Komitmennya

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:02 WIB

SMRC Ungkap Biang Kerok Elektabilitas Prabowo Merosot, Dedi Mulyadi Kini Jadi Ancaman Politik Baru

Berita Terbaru