SUMBAWAPOST.com, Dompu– Gedung DPRD biasanya tenang saat Jumat siang, tapi 28 Maret 2025 lalu berubah jadi “ring tinju” politik. Tanpa undangan resmi atau jadwal formal, Ketua DPRD Dompu Ir. Muttakun bikin kejutan: rapat kilat bareng akademisi dan tokoh penting daerah. Tak ada jamuan, tak ada basa-basi yang ada hanya peluru opini tajam menyorot masalah pelik Dompu.
“Kalau TP2D dan OPD tidak nyambung, jangan salahkan kalau Bupati dan Wakilnya lebih sibuk matiin api konflik daripada bangun daerah,” tegas Dr. Syafril, Dosen Geografi Politik sekaligus Sekretaris Rektor I UMMAT, memancing bisik-bisik dan detak jantung di ruangan.

TP2D Disorot, Bupati Tersenggol?
Dr. Syafril tanpa ragu menyebut keberadaan Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) masih kabur. Ia bahkan menuding tim itu berpotensi jadi ‘pembisik beracun’ jika tak dikendalikan.
“Ini bukan ajang balas budi politik. TP2D butuh legitimasi berbasis data, bukan karena siapa yang paling dekat dengan kekuasaan,” katanya tajam, menusuk atmosfer yang makin panas.
Diskusi Meledak, Sindiran Menyambar
Suasana santai di awal berubah jadi ruang bedah penuh luka dalam pembangunan Dompu. Tak cuma soal TP2D, para akademisi juga menguliti masalah tambang, pengangguran, hingga krisis air dan kenakalan remaja.
“Kalau arah pembangunan penuh drama, ya rakyat yang jadi korban,” tutup Syafril, sambil menyiratkan bahwa sudah saatnya Dompu bangkit dari bayang-bayang konflik internal menuju panggung pembangunan yang sesungguhnya.
Tamu Diskusi: Bukan Kaleng-Kaleng
Turut hadir dalam diskusi panas itu: Prof. Sutarto (UNDIKMA), Yan Mangandar Putra, SH., MH (praktisi hukum), Ilyas Yasin, M.M.Pd (Dosen STKIP Yapis Dompu), Suherman (Masyarakat dan sekaligus tokoh HMI), dan jurnalis senior Suara NTB, Nasrullah.










