Gubernur NTB: Pejabat Tanpa Sertifikasi Manajemen Risiko Tak Bisa Naik Eselon II

Avatar

- Jurnalis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Saat Membuka Workshop Manajemen Risiko Pemerintah Provinsi NTB di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Saat Membuka Workshop Manajemen Risiko Pemerintah Provinsi NTB di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

SUMBAWAPOST.com™ | Lombok Timur- Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal meminta seluruh Kepala Perangkat Daerah memperkuat penerapan Manajemen Risiko dalam setiap tahapan Pelaksanaan Program Pemerintah Daerah.

Gubernur Iqbal menegaskan, Manajemen Risiko tidak boleh hanya dipandang sebagai pemenuhan Administrasi. Menurutnya, Manajemen Risiko harus menjadi bagian dari Budaya Kerja Birokrasi agar berbagai Potensi kendala dapat diidentifikasi dan dikendalikan sejak awal.

“Manajemen Risiko itu bukan sekadar urusan Administratif atau SOP. Ini adalah Mindset, Cara Kerja, dan corporate culture (Budaya Perusahaan). Segala sesuatu sebelum dijalankan harus dihitung dulu risikonya di depan,” tegasnya, saat membuka Workshop Manajemen Risiko Pemerintah Provinsi NTB, di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu (8/8/2026).

Ia menjelaskan, penerapan Manajemen Risiko bukan bertujuan untuk menghilangkan seluruh Risiko. Sebab, menurutnya, hal tersebut tidak mungkin dilakukan.

Sebaliknya, seorang Pemimpin harus mampu mengidentifikasi, mengukur, dan mengantisipasi Risiko sebelum mengambil Keputusan.

Gubernur Iqbal kemudian mengibaratkan Manajemen Risiko seperti mempersiapkan Kapal sebelum berlayar. Potensi Badai dan Ombak besar harus diperhitungkan sejak awal agar Kapal memiliki kesiapan menghadapi berbagai Kondisi.

Baca Juga :  ITDC Kelola 1.545 Hektare Kawasan Pariwisata Strategis Nasional, Mandalika Jadi yang Terluas

“Tujuannya bukan menghilangkan Risiko, karena itu mustahil. Tugas seorang Pemimpin adalah mengambil Calculated Risk (Risiko yang diperhitungkan) Risiko yang sudah dikalkulasi dengan matang. Kepala Perangkat Daerah harus menjadi Buffer Zone atau benteng utama pengelola Risiko di Unitnya Masing-masing agar masalah tidak menumpuk di tingkat Gubernur,” lanjutnya, dihadapan peserta yang terdiri dari Kepala Perangkat Daerah dan Pejabat Administrator Lingkungan Pemerintah Provinsi NTB.

Untuk memperkuat penerapan manajemen Risiko di Lingkungan Pemerintah Provinsi NTB, Gubernur menginstruksikan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) NTB dan Inspektorat bekerja sama dengan Perwakilan BPKP Provinsi NTB dalam Penyelenggaraan Pelatihan dan sertifikasi Manajemen Risiko (MR).

“Sertifikasi manajemen risiko akan menjadi salah satu persyaratan pengembangan karier pejabat. Mulai tahun depan, pejabat Eselon III yang belum memiliki Sertifikasi Manajemen Risiko tidak dapat dipromosikan ke Jenjang Eselon II,” katanya.

Kebijakan tersebut menempatkan pemahaman dan kemampuan mengelola Risiko sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan Karier pejabat di Lingkungan Pemerintah Provinsi NTB.

Sementara itu, Inspektur Provinsi NTB Budi Herman, selalu Ketua Pelaksana, mengatakan Workshop tersebut berangkat dari hasil pembahasan Program Prioritas Desa Berdaya di Bappeda. Kompleksitas pelaksanaan program di lapangan dinilai membutuhkan penguatan kapasitas Pimpinan OPD dalam mengidentifikasi dan Mengelola Risiko.

Baca Juga :  Inilah Enam Daftar Infomasi yang Dikecualikan di Dinas Perkim NTB

“Workshop ini bertujuan mendorong integrasi Manajemen Risiko ke dalam proses Perencanaan, Penganggaran, hingga eksekusi Program. Kami mengapresiasi pendampingan dari BPKP NTB dan berharap langkah awal ini berlanjut pada Diklat Sertifikasi demi mewujudkan Tatakelola Pemerintahan yang Akuntabel dan Efektif,” jelasnya.

Workshop yang berlangsung sehari penuh tersebut sekaligus menjadi forum penguatan Koordinasi Antar-Perangkat Daerah dan penyegaran bagi jajaran Pimpinan Pemprov NTB.

Melalui penguatan Manajemen Risiko, Pemprov NTB mendorong perubahan Pola Kerja Birokrasi dari pendekatan reaktif menjadi lebih antisipatif.

Dengan pendekatan tersebut, setiap Program diharapkan dapat dilaksanakan melalui perencanaan yang lebih matang dengan Risiko yang telah diperhitungkan dan terukur.

Workshop Manajemen Risiko Pemerintah Provinsi NTB yang digagas Inspektorat Provinsi NTB tersebut dihadiri Wakil Gubernur NTB, Sekretaris Daerah Provinsi NTB, dan Kepala Perwakilan BPKP RI Provinsi NTB.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Ranperda Pajak NTB Dikoreksi Mendagri, Komisi III DPRD Beberkan 6 Poin Ini Wajib Diperbaiki
Kemendagri Koreksi Pajak Air NTB, Komisi III Soroti Water Meter, Air Payau hingga IPR
Kemendagri Hapus Sejumlah Tarif Retribusi dalam Ranperda Pajak NTB, Ini Daftarnya
Bom Meledak di Lombok Tengah Jelang MotoGP Mandalika 2026, Tim Jibom Polda NTB Bergerak
PMI NTB Yanuar Masih Tertahan di Myawaddy, Sudah Terhubung dan Sehat Tapi Belum Bisa Pulang, Ini Alasannya
PKL Nasional di Kemenag RI, Mahasiswa FDIK UIN Mataram Didorong Uji Skill dan Mental di Dunia Kerja
Mahasiswa Bima Tusuk Ihsan hingga Tewas di Pantai Wadu Baba, Terancam Hukuman Mati
Sakit Hati Pacarnya Diduga Diperkosa, Mahasiswa Bima Tusuk Pemuda Pantai Hingga Tewas
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:23 WIB

Ranperda Pajak NTB Dikoreksi Mendagri, Komisi III DPRD Beberkan 6 Poin Ini Wajib Diperbaiki

Selasa, 29 September 2026 - 16:57 WIB

Kemendagri Koreksi Pajak Air NTB, Komisi III Soroti Water Meter, Air Payau hingga IPR

Selasa, 29 September 2026 - 15:44 WIB

Kemendagri Hapus Sejumlah Tarif Retribusi dalam Ranperda Pajak NTB, Ini Daftarnya

Selasa, 29 September 2026 - 11:49 WIB

Bom Meledak di Lombok Tengah Jelang MotoGP Mandalika 2026, Tim Jibom Polda NTB Bergerak

Senin, 28 September 2026 - 19:50 WIB

PMI NTB Yanuar Masih Tertahan di Myawaddy, Sudah Terhubung dan Sehat Tapi Belum Bisa Pulang, Ini Alasannya

Berita Terbaru