TPA Kebon Kongok di NTB Berpotensi Hasilkan 9 Juta Ton Gas Metana per Tahun, Siap Jadi Sumber Energi Alternatif

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TPA Regional Kebon Kongok di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. TPA terbesar di NTB ini disebut memiliki potensi menghasilkan sekitar 9 juta ton gas metana per tahun yang direncanakan untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat.

TPA Regional Kebon Kongok di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. TPA terbesar di NTB ini disebut memiliki potensi menghasilkan sekitar 9 juta ton gas metana per tahun yang direncanakan untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat.

SUMBAWAPOST.com | Lombok Barat- Di balik aktivitas pengelolaan sampah di TPA Regional Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersimpan potensi energi besar yang berpeluang menjadi sumber energi alternatif bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB mengungkapkan bahwa timbunan sampah di kawasan tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 9 juta ton gas metana per tahun, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti gas untuk kebutuhan rumah tangga.

Potensi besar tersebut terungkap dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 yang digelar di Kantor TPA Regional Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri (Umi Dinda), didampingi Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair.

Selain menyerahkan dana kompensasi kepada delapan desa lingkar TPA Kebon Kongok, Pemerintah Provinsi NTB juga menegaskan komitmennya untuk mendorong pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat.

Kepala DLHK Provinsi NTB, H. Didik Mahmud Gunawan Hadi, menjelaskan bahwa volume sampah yang masuk ke TPA Regional Kebon Kongok terus mengalami peningkatan setiap tahun seiring pertumbuhan penduduk, aktivitas ekonomi, dan perkembangan kawasan perkotaan di Pulau Lombok.
Menurutnya, selain berfungsi sebagai fasilitas utama pengolahan sampah regional, TPA Kebon Kongok juga menyimpan peluang besar dalam pengembangan energi terbarukan melalui pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian sampah organik.

“Kami telah mengajukan proposal untuk pemurnian gas metana agar dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bakar pengganti gas untuk kebutuhan sehari-hari. Ini merupakan salah satu bentuk manfaat yang dapat dihasilkan dari pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya.

Didik mengungkapkan, potensi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di TPA Regional Kebon Kongok diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton per tahun. Jika dikelola secara optimal, potensi tersebut dapat menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomis sekaligus membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap energi berbasis fosil.

Selain memberikan manfaat energi, pemanfaatan gas metana juga diyakini mampu menekan dampak lingkungan dari timbunan sampah serta mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca yang menjadi salah satu tantangan global saat ini.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Permasalahan sampah hari ini membutuhkan kebersamaan dan kerja keras dari kita semua. Berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan lahan hingga dampak sosial yang dirasakan masyarakat sekitar, harus diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan niat yang sama untuk mencari solusi,” ujarnya.

Umi Dinda juga menekankan pentingnya edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah sebagai langkah mendasar dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.

“Jika masyarakat tidak diberikan pemahaman yang baik untuk memilah sampah sejak dari rumah, maka persoalan ini akan terus berlanjut dan menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai,” katanya.

Lebih jauh, ia mendorong agar TPA Regional Kebon Kongok dapat berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus laboratorium pembelajaran bagi generasi muda mengenai pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi.

“Ke depan tidak menutup kemungkinan TPA ini menjadi lokasi kunjungan edukatif bagi anak-anak sekolah untuk melihat secara langsung bagaimana sampah diproses dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Mari kita ubah pandangan bahwa tempat pembuangan akhir adalah kawasan yang tidak bermanfaat. Jika dikelola dengan baik, justru dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB juga menyerahkan dana kompensasi kepada delapan desa yang berada di sekitar TPA Regional Kebon Kongok, yakni Desa Banyumulek, Sukamakmur, Taman Ayu, Parampuan, Karang Bongkot, Lelede, Gapuk, dan Kuranji.

Melalui pengembangan potensi gas metana dan berbagai program pengelolaan sampah berkelanjutan, Pemprov NTB berharap TPA Kebon Kongok tidak hanya menjadi pusat pengolahan sampah regional, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi sumber energi alternatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan di Nusa Tenggara Barat.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Pernah Jadi Orang Nomor Satu di Polri, Kini Tersangka! Ini Jejak Karier dan Kekayaan Jenderal Bintang Empat Listyo Sigit
Geger Kabar Sejumlah Jenderal Polri Ditangkap dan Diamankan di Mako Brimob, Ini Respons Mabes Polri
Bikin ASN Betah Ngantor, Wagub NTB Puji Disnakertrans Sulap Pekarangan Jadi Kebun Produktif
Okupansi Hotel di NTB Merosot, Tingkat Hunian Hotel Berbintang Turun Jadi 44,86 Persen
Bukan Sekadar Terima Beasiswa, 100 Mahasiswa Unram Ditantang Jadi Penggerak Pertanian Modern
Tak Cuma Beri Beasiswa ke Mahasiswa Unram, JHL Siapkan Investasi Pabrik Kelapa di NTB
100 Mahasiswa Pertanian Unram Terima Beasiswa Kelapa dari Yayasan JHL Merah Putih Kasih
Ekspor NTB Tembus Rp6,94 Triliun, Daya Tukar Petani Menguat, Produksi Padi dan Jagung Naik
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 21:45 WIB

Pernah Jadi Orang Nomor Satu di Polri, Kini Tersangka! Ini Jejak Karier dan Kekayaan Jenderal Bintang Empat Listyo Sigit

Selasa, 3 November 2026 - 17:05 WIB

Geger Kabar Sejumlah Jenderal Polri Ditangkap dan Diamankan di Mako Brimob, Ini Respons Mabes Polri

Selasa, 3 November 2026 - 13:11 WIB

Bikin ASN Betah Ngantor, Wagub NTB Puji Disnakertrans Sulap Pekarangan Jadi Kebun Produktif

Selasa, 3 November 2026 - 08:07 WIB

Okupansi Hotel di NTB Merosot, Tingkat Hunian Hotel Berbintang Turun Jadi 44,86 Persen

Senin, 2 November 2026 - 17:44 WIB

Bukan Sekadar Terima Beasiswa, 100 Mahasiswa Unram Ditantang Jadi Penggerak Pertanian Modern

Berita Terbaru