SUMBAWAPOST.com, Senggigi- Perbedaan pilihan pada calon Kepala Daerah pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 akan kita hadapi bersama.
Sangat tidak mungkin di tengah kita selalu mengagungkan kebanggaan kita terhadap Demokrasi saat ini warga masyarakat hanya akan menjatuhkan pilihannya pada satu pasangan calon. Bukannya perbedaan pilihan adalah suatu keniscayaan.
Berbeda pilihan akan kita hadapi di kehidupan sosial, mulai dari tempat kerja, komunitas, bertetangga, Organisasi, bahkan di kalangan keluarga.
Demokrasi yang merupakan jalan dalam menentukan seorang Pemimpin yang langsung ditentukan dan dipilih oleh setiap individu masyarakat merupakan keniscayaan. Berbeda pilihan bisa berdampak baik dan sekaligus buruk jika tidak disikapi dengan pikiran dan jiwa dewasa.
Hal yang patut diwaspadai bersama adalah perbedaan pilihan di dalam keluarga, khususnya antara suami dengan istri, Kakak dan Adik pada momen Pilkada serentak ini, mengajarkan kita untuk betul-betul dewasa dan berkepala dingin menyikapi perbedaan pilihan.
Menyikapi hal itu, Hasbullah, yang merupakan Ketua Panwascam Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat (Lobar) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyampaikan, pihaknya meyakini bahwa Negeri ini tidak pernah menuntut kita menjadi pendukung fanatik tanpa akal sehat terhadap Calon, baik itu calon Kepala Desa, Calon Wakil Rakyat (DPR), Calon Bupati, Calon Wali Kota, Calon Gubernur bahkan Calon Presiden tertentu.
“Saya hampir di tiap kontestasi Politik saya dengan istri, keluarga saya hampir tidak pernah Sama. Selalu aja berbeda pilihan, bahkan saat ini di Pilkada di NTB saya beda dengan istri saya, yang saya pilih baik Bupati dan Gubenur di NTB. Tidak pernah saya persoalkan secara serius. Saya hanya menginginkan kita menentukan pilihan dengan rasa damai dan bahagia, kemudian datang ke TPS, coblos pasangan yang dia pilih secara merdeka tanpa tekanan dari manapun. Iya, hanya itu. Bukannya alam Demokrasi kita ini justru menuntut kita memiliki keluarga yang semua anggotanya selalu damai. Negeri ini juga berharap kita untuk selalu baik dan rukun dengan tetangga yang merupakan cerminan dari bagian kecil akan kesatuan dan persatuan bersama sebagai warga bangsa,”ungkapnya. Rabu 27 November 2024 kepada media ini
Apa yang saya rasakan saat ini, mungkin dialami juga bagi orang lain, atau malah sebaliknya. Sehingga, Hasbullah berharap kita tidak menjadi bagian yang menjadi pelaku dari dukungan fanatik tanpa akal sehat di Pilkada serentak saat ini yang justru melahirkan perseteruan dan merusak hubungan baik antara keluarga dan lain sebagainya.
“Fanatik boleh, yang gak boleh itu kita tidak dewasa menyikapi setiap perbedaan, kita tidak rasional dalam sebuah perbedaan,”terang Hasbullah.
Untuk menghindari lahirnya ketidak sukaan kita terhadap sesuatu, Hasbullah selalu berpegang teguh pada sebuah prinsip yakni keluarga adalah segalanya.
“Berpeganglah kembali pada filosofi dasar bahwa kedamaian dan keselamatan keluarga adalah segala-galanya,”pesan Hisbullah.
Lanjut Hasbullah, menurutnya, dalam hubungannya dikala perbedaan itu lahir, pihaknya selalu mengedepankan dan melihat, bahwa Anak-anak kita lebih membutuhkan kasih sayang dan semua kebutuhan dasar hidupnya terpenuhi dengan baik.
“Anak-anak kita lebih suka menyaksikan orang tuanya rukun dan damai. Bersikap santai dan biasa-biasa saja menyikapi dukungan terhadap Calon Bupati, Calon Wali Kota dan Calon Gubernur tertentu adalah pilihan “pribadi yang berkelas”, meskipun tidak berarti kita apatis pada proses demokrasi lima tahunan ini,”pesannya.
“Mari kita fanatik pada pilihan bahwa NTB ini rakyatnya harus hidup rukun, damai, dan sejahtera. Hadapi Pilkada 2024 dengan banyak senyum. Riang Gembira. Tidak semua kekalahan itu jadi akhir dari segalanya. Dan sebaliknya Kemenangan itu sebuah cobaan dan tanggung jawab yang sangat besar yang akan dimintai pertanggungjawaban diakhir kelak,”pungkasnya.










