SUMBAWAPOST.com | Jakarta- Lebih dari 500 anak muda memadati Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dalam gelaran The Unpopular Fest 2026 yang diinisiasi Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC).
Festival yang menggabungkan seni pertunjukan teater musikal dengan advokasi kebijakan tersebut digelar bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun ke-499 DKI Jakarta.
Ketua Umum IYCTC, Manik Marganamahendra, mengatakan isu pengendalian rokok selama ini sering dianggap tidak populer oleh para pembuat kebijakan, meskipun dampaknya sangat besar terhadap kesehatan masyarakat dan masa depan generasi muda Indonesia.
“Kebijakan pengendalian rokok ini dinilai tidak populer karena kuatnya pengaruh industri rokok. Saat ini, negara kita seperti terperangkap pada logika extractive institutions, sementara warga negaranya tidak terorganisasi sebagai kekuatan yang populer. Padahal, ada 70 juta perokok aktif di Indonesia, yang berarti ada sekitar 200 juta penduduk non-perokok yang hak udaranya terancam setiap hari,” ujar Manik, dalam keterangan yang diterima media ini. Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, keberanian mengambil kebijakan yang berpihak pada kesehatan publik menjadi hal penting demi menyelamatkan jutaan anak Indonesia dari ancaman adiksi rokok.
“Kita tidak bisa terus berjalan di atas kebijakan yang hanya mencari aman di permukaan, sementara generasi muda kita perlahan hancur digerogoti adiksi rokok. Melalui gerakan Save Our Surroundings (SOS), kami ingin merangkul seluruh pihak untuk berani mengambil langkah yang mungkin saat ini tidak populer, tetapi sangat penting dalam menyelamatkan jutaan nyawa anak-anak di masa depan,” tegasnya.
Manik juga mengingatkan bahwa kebijakan yang hanya berorientasi pada popularitas tidak selalu mampu menyelesaikan persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
“Kebijakan yang populis terbukti tidak akan menyelesaikan masalah dari akarnya. Suatu hari bahkan kebijakan yang populis bisa berbalik arah menjadi senjata makan tuan apabila eksekusinya tidak cukup baik, seperti contohnya Makan Bergizi Gratis. Alih-alih didukung masyarakat, diskursusnya lebih banyak pada tata kelola,” tambahnya.
Sebagai puncak acara, delegasi muda DPRemaja 4.0 membacakan tujuh Manifesto Kebijakan Nasional yang berisi berbagai tuntutan penguatan pengendalian rokok dan perlindungan generasi muda Indonesia.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










