Sumbawa dan Bima Disiapkan Jadi Sentra Unggas Nasional, Proyek Rp1,7 Triliun Siap Dukung Program MBG

Avatar

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. saat melakukan pertemuan dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, PT Berdikari, Direktur Hilirisasi, serta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB Muhamad Riadi di sela Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo untuk membahas percepatan proyek hilirisasi unggas terintegrasi senilai Rp1,7 triliun di Sumbawa dan Bima.

Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. saat melakukan pertemuan dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, PT Berdikari, Direktur Hilirisasi, serta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB Muhamad Riadi di sela Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo untuk membahas percepatan proyek hilirisasi unggas terintegrasi senilai Rp1,7 triliun di Sumbawa dan Bima.

SUMBAWAPOST.com | Gorontalo- Pulau Sumbawa semakin diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan industri peternakan unggas nasional. Melalui Proyek Hilirisasi Unggas Terintegrasi senilai Rp1,2 hingga Rp1,7 triliun yang masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN), Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima disiapkan menjadi sentra produksi unggas yang akan mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menopang Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Komitmen percepatan proyek tersebut kembali ditegaskan Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., saat menghadiri Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo.

Di sela kegiatan nasional tersebut, Bupati Jarot melakukan pertemuan dengan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Direktur Utama PT Berdikari, serta Direktur Hilirisasi guna membahas percepatan pembangunan industri unggas terintegrasi di Pulau Sumbawa.

Bupati Jarot hadir bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa Hj. Ida Fitria Syarafuddin Jarot, S.E., didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa beserta jajaran serta Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Sumbawa.

Menurut Bupati Jarot, hasil pertemuan tersebut membawa perkembangan positif bagi realisasi investasi strategis yang digagas pemerintah pusat bersama BUMN.

“Barusan kami membahas proyek unggas terintegrasi di Sumbawa bersama Dirjen Peternakan, Dirut Berdikari, dan Direktur Hilirisasi. Alhamdulillah, tim dari Kementerian Pertanian dan PT Berdikari akan segera turun ke Sumbawa untuk memastikan kesiapan lahan yang telah diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa,” ujar Bupati H. Jarot.

Proyek Hilirisasi Unggas Terintegrasi merupakan investasi berskala besar yang dikembangkan oleh BUMN melalui ID FOOD dan PT Berdikari dengan dukungan Danantara.

Baca Juga :  Pilkada 2024: LPW NTB Laporkan Calon Bupati, Wali Kota dan Gubernur NTB

Pengembangannya mencakup seluruh rantai industri peternakan unggas, mulai dari pembibitan, pabrik pakan, budidaya ayam, rumah potong unggas, pengolahan hasil hingga distribusi.

Menurut Bupati Jarot, investasi tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Pulau Sumbawa. Selain membuka lapangan kerja baru dalam jumlah besar, proyek ini juga diyakini mampu memperkuat peternakan rakyat serta mendorong tumbuhnya industri turunan yang mendukung sektor pangan nasional.

Sebagai bentuk keseriusan mendukung investasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah menyiapkan sejumlah alternatif lokasi pengembangan. Selain kawasan Serading di Kecamatan Moyo Hilir, Pemkab juga menawarkan kawasan Teluk Santong, Bangkong, dan Kerato sebagai opsi pengembangan investasi.

“Kami ingin memastikan proyek strategis ini tetap berada di Sumbawa dan dapat segera direalisasikan. Karena itu, berbagai alternatif lahan kami siapkan agar prosesnya berjalan lebih cepat dan sesuai kebutuhan investor,” tegasnya.

Bupati Jarot menambahkan, berdasarkan komunikasi dengan pemerintah pusat dan pihak pelaksana proyek, pengembangan industri unggas terintegrasi tetap akan dilaksanakan di Pulau Sumbawa dengan pembagian peran antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima.

“Kami optimistis proyek ini akan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumbawa sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai sentra peternakan unggas nasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Muhamad Riadi, mengungkapkan bahwa tim konsultan dan tenaga teknis PT Berdikari telah merampungkan survei lapangan di sejumlah wilayah di Pulau Sumbawa.

“Hasil kajian mereka menjadi dasar menentukan lokasi yang paling layak secara bisnis. Sudah ke Sumbawa, Dompu dan Bima,” kata Riadi, Sabtu (20/6/2026).

Baca Juga :  Paripurna LKPJ Gubernur NTB 2025, DPRD Soroti OPD dan Uji Capaian Ekonomi Pemprov

Tim telah melakukan survei di sejumlah wilayah Kabupaten Sumbawa seperti Kerato, Kerekeh, Kemoyo, Labangka hingga Tarano. Sedangkan di Kabupaten Bima, survei dilakukan di kawasan Tambora, Wera, Madapangga, dan Donggo.

Dari hasil kajian tersebut, konsultan merekomendasikan dua lokasi di Kabupaten Bima, yakni Donggo seluas 5 hektare dan Madapangga seluas 8,2 hektare.

Riadi menegaskan bahwa proyek tersebut tidak dialihkan sepenuhnya ke Bima sebagaimana isu yang berkembang.

“Jadi, komitmen PT Berdikari tetap membangun di Sumbawa dan Bima. Hanya saja, pembagiannya disesuaikan dengan pertimbangan bisnis dan efisiensi distribusi,” tegasnya.

Menurut Riadi, pembagian fasilitas produksi antara Sumbawa dan Bima dilakukan untuk meningkatkan efisiensi distribusi, terutama pengiriman bibit ayam atau day old chick (DOC) ke berbagai wilayah pasar potensial, termasuk Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain menjadi investasi strategis daerah, megaproyek unggas senilai Rp1,7 triliun ini juga diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Keberadaan fasilitas pembibitan, produksi pakan, penggemukan hingga pengolahan hasil unggas dinilai akan memperkuat ketersediaan sumber protein hewani yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan program MBG secara berkelanjutan.

“Arahan pemerintah pusat jelas, tahun ini harus ada progres. Karena itu kami terus menyiapkan berbagai kebutuhan, terutama terkait lahan dan dokumen pendukung,” jelas Riadi.

Meski demikian, proyek investasi senilai Rp1,7 triliun tersebut masih memerlukan penyelesaian sejumlah aspek administrasi dan kepastian status lahan sebelum memasuki tahap pembangunan fisik.

 

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Ranperda Pajak NTB Dikoreksi Mendagri, Komisi III DPRD Beberkan 6 Poin Ini Wajib Diperbaiki
Kemendagri Koreksi Pajak Air NTB, Komisi III Soroti Water Meter, Air Payau hingga IPR
Kemendagri Hapus Sejumlah Tarif Retribusi dalam Ranperda Pajak NTB, Ini Daftarnya
Bom Meledak di Lombok Tengah Jelang MotoGP Mandalika 2026, Tim Jibom Polda NTB Bergerak
PMI NTB Yanuar Masih Tertahan di Myawaddy, Sudah Terhubung dan Sehat Tapi Belum Bisa Pulang, Ini Alasannya
PKL Nasional di Kemenag RI, Mahasiswa FDIK UIN Mataram Didorong Uji Skill dan Mental di Dunia Kerja
Mahasiswa Bima Tusuk Ihsan hingga Tewas di Pantai Wadu Baba, Terancam Hukuman Mati
Sakit Hati Pacarnya Diduga Diperkosa, Mahasiswa Bima Tusuk Pemuda Pantai Hingga Tewas
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:23 WIB

Ranperda Pajak NTB Dikoreksi Mendagri, Komisi III DPRD Beberkan 6 Poin Ini Wajib Diperbaiki

Selasa, 29 September 2026 - 16:57 WIB

Kemendagri Koreksi Pajak Air NTB, Komisi III Soroti Water Meter, Air Payau hingga IPR

Selasa, 29 September 2026 - 15:44 WIB

Kemendagri Hapus Sejumlah Tarif Retribusi dalam Ranperda Pajak NTB, Ini Daftarnya

Selasa, 29 September 2026 - 11:49 WIB

Bom Meledak di Lombok Tengah Jelang MotoGP Mandalika 2026, Tim Jibom Polda NTB Bergerak

Senin, 28 September 2026 - 19:50 WIB

PMI NTB Yanuar Masih Tertahan di Myawaddy, Sudah Terhubung dan Sehat Tapi Belum Bisa Pulang, Ini Alasannya

Berita Terbaru