Perpres 4/2026 Disorot, Sawah NTB Beralih Fungsi, Direktur Mi6: Ini Sawah atau Real Estate Sih?

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 10 April 2026 - 17:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 NTB, Bambang Mei Finarwanto (Didu), saat memberikan keterangan terkait Perpres 4/2026 tentang pengendalian alih fungsi lahan sawah di Mataram.

Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 NTB, Bambang Mei Finarwanto (Didu), saat memberikan keterangan terkait Perpres 4/2026 tentang pengendalian alih fungsi lahan sawah di Mataram.

SUMBAWAPOST.com| Mataram- Kebijakan pengendalian alih fungsi lahan sawah melalui Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 mendapat perhatian dari kalangan masyarakat sipil di Nusa Tenggara Barat (NTB). Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6, Bambang Mei Finarwanto atau yang akrab disapa Didu, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa implementasi kebijakan tersebut sangat bergantung pada validitas data serta kemampuan pemerintah membaca kondisi riil di daerah.

“Secara prinsip kita dukung. Ini penting untuk masa depan pangan kita. Tapi jangan sampai kebijakan besar ini tersandung hal mendasar seperti data yang tidak sinkron atau tidak akurat. Kalau datanya bermasalah, di lapangan pasti ribut,” ujarnya, Jum’at (10/4/2026), dalam keterangan yang diterima media ini.

Didu menegaskan, sinkronisasi data antara pemerintah pusat dan daerah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan fondasi utama agar kebijakan tidak menimbulkan konflik baru, baik antarinstansi maupun di tengah masyarakat.

Selain persoalan data, ia juga menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam penerapan kebijakan. Menurutnya, kondisi tiap daerah di Indonesia, termasuk NTB, sangat beragam sehingga pendekatan yang seragam berpotensi kontraproduktif.

“Jangan semua dipukul rata. Ada daerah yang masih sangat agraris, ada juga yang tekanan pembangunannya tinggi seperti di perkotaan. Kalau dipaksakan sama, itu tidak adil dan bisa menghambat pertumbuhan daerah,” tegasnya.

Baca Juga :  Bukan Cuma Tambora yang Meletus, Senator Mirah Juga ‘Meledak’ Soal 33 Titik Blank Spot di NTB

Didu menjelaskan, Provinsi NTB memiliki karakter wilayah dengan iklim kering seluas 2.975,47 km² atau sekitar 91,2 persen dari total wilayah. Sekitar 89,2 persen di antaranya merupakan lahan kering, sementara sisanya lahan basah non rawa.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB (2023), alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi non-pertanian masih terjadi dalam jumlah signifikan di berbagai wilayah.

Di Pulau Lombok, Kota Mataram tercatat sebagai wilayah dengan alih fungsi lahan tertinggi, yakni 638,10 hektare per tahun.

“Di pulau Lombok, wilayah alih fungsi lahan yang paling tinggi di kota Mataram yakni 638,10 Ha pertahun,” kata Didu.

Ia kemudian memerinci data alih fungsi lahan di daerah lain. Lombok Barat tercatat 1.624,80 hektare, Lombok Utara 5.061,50 hektare, Lombok Tengah 3.118,59 hektare, dan Lombok Timur 6.891,20 hektare.

Sementara di Pulau Sumbawa, alih fungsi lahan terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 3.974,30 hektare, Kabupaten Bima 2.958,50 hektare, Dompu 1.668,40 hektare, Sumbawa Barat 607,60 hektare, serta Kota Bima 395,10 hektare.

Menurut Didu, kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi ekstensifikasi dan intensifikasi lahan non-produktif melalui teknologi tepat guna yang berkelanjutan guna mendukung kemandirian pangan, sejalan dengan Perpres Nomor 4 Tahun 2026.

“Untuk itu guna mengembalikan atau mengganti lahan pertanian yang sudah beralih fungsi tersebut di perlukan ekstensifikasi dan intensifikasi lahan non produktif melalui Tehnologi Tepat Guna yang berkelanjutan guna mendukung kemandirian pangan sesuai Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah sebagai langkah penting menjaga ketahanan pangan nasional,” tandasnya.

Baca Juga :  Kapolda NTB Bertemu Anggota DPR RI Muazzim Akbar, Bahas Soal Ini

Terkait ketentuan sekitar 87 persen lahan sawah yang tidak boleh dialihfungsikan, Didu menilai pendekatan skala provinsi lebih rasional dibandingkan penerapan kaku di tingkat kabupaten/kota.

“Kalau ditarik ke level provinsi, itu lebih fleksibel. Daerah yang butuh ekspansi bisa bergerak, tapi secara keseluruhan kita tetap jaga keseimbangan lahan sawah. Jadi tujuan besarnya tidak hilang,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya insentif bagi petani agar lahan tidak mudah dialihfungsikan.

“Kalau petani tidak sejahtera, ya jangan heran kalau lahan pelan-pelan dilepas. Jadi selain dilindungi, harus ada insentif nyata, akses pasar, teknologi, infrastruktur, itu penting,” katanya.

Didu menilai pemerintah daerah memegang peran kunci karena paling memahami kondisi lapangan, sehingga perlu diberikan ruang diskresi yang terukur agar kebijakan tetap adaptif tanpa keluar dari kerangka nasional.
Menutup pernyataannya, ia mengajak semua pihak melihat kebijakan ini dalam perspektif jangka panjang.

“Ini bukan cuma soal regulasi, tapi soal bagaimana kita menjaga keberlanjutan hidup ke depan. Kuncinya sederhana: data harus beres, kebijakan harus lentur, dan semua pihak harus diajak bicara,” pungkasnya.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan
HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak
Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat
Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik
Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan
Maluku Utara ‘Berguru’ ke NTB, Belajar Jurus Kelola Laut
Mori Hanafi Tagih Janji Pemerintah, Desak Kepastian Dana Gedung DPRD NTB 2027
ASN Dinas Pertanian NTB Disorot, Ada yang Tak Masuk Kerja hingga 93 Hari
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan

Jumat, 4 September 2026 - 15:05 WIB

HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak

Jumat, 4 September 2026 - 11:26 WIB

Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat

Jumat, 4 September 2026 - 10:00 WIB

Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik

Jumat, 4 September 2026 - 01:10 WIB

Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan

Berita Terbaru