NTB Gaspol Jadi Lumbung Pangan Nasional, Distanbun dan Kementan RI Kawal Ketat Program OPLAH 2025

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 10 Oktober 2025 - 23:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMBAWAPOST.com, Mataram- Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pendampingan Optimalisasi Lahan (OPLAH) Tahun 2025 di Aula Distanbun NTB. Kegiatan ini dihadiri Plt. Kadistanbun NTB, Muhamad Riadi, tim Irjen Kementan, serta perwakilan Dinas Pertanian kabupaten/kota se-NTB.

Pada kesempatan tersebut, Riadi menegaskan kehadiran tim Irjen Kementan bertujuan melakukan pendampingan dan memastikan pelaksanaan program OPLAH sesuai ketentuan. Menurutnya, program ini menjadi langkah strategis mewujudkan NTB sebagai lumbung beras dan pangan nasional.

“OPLAH ini fokus pada pembenahan jaringan tersier. Keberpihakan pimpinan sudah luar biasa, sekarang tinggal tugas kita meningkatkan produksi dan produktivitas lahan pertanian. Jaringan irigasi harus kita benahi dengan baik,” ujar Riadi.

Dalam laporan perkembangannya, Riadi menyampaikan bahwa capaian kontrak fisik program OPLAH di NTB meningkat dari 83 persen menjadi 93 persen.
Contohnya, Kabupaten Sumbawa melaksanakan tiga tahap kegiatan tahap pertama telah selesai seluas 749 hektare, dan tahap kedua serta ketiga seluas 788 hektare ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Selain itu, ada tambahan kegiatan di Dompu (3.000 ha) dan Bima (1.000 ha) yang seluruhnya sudah memiliki dokumen Survey Investigasi Desain (SID).

Baca Juga :  Korupsi Masih Betah di NTB, Pencegahan Baru 38%! Wagub Umi Dinda Tegaskan Integritas ASN Harus Dibuktikan, Bukan Sekedar Janji

“Tetap semangat dan terima kasih atas kehadiran bapak ibu semua. Untuk tahun berikutnya, kami berharap identifikasi dilakukan lebih awal agar kita bisa lebih siap,” pesannya.

Perwakilan Inspektorat Jenderal Kementan memaparkan hasil uji petik yang telah dilakukan di Lombok Tengah, Bima, dan Sumbawa. Irjen menekankan pentingnya ketelitian administrasi dan kesesuaian data di lapangan untuk mencegah potensi Tuntutan Ganti Rugi (TGR).

“Kami fokus pada aspek SID. Hasil survei harus didokumentasikan dengan baik, dan kebutuhan air di setiap lokasi perlu dicantumkan secara rinci. Tolong dicek ulang kesesuaian antara nilai kontrak dengan bukti pengeluaran di lapangan,” tegas perwakilan Irjen.

Pelaksanaan kegiatan OPLAH sendiri menggunakan metode swakelola tipe IV, yang menuntut peran aktif kelompok tani serta pengawasan konsultan teknis. Irjen juga mengingatkan agar setiap perubahan di lapangan wajib dilengkapi dengan berita acara resmi.

FGD ini dibagi menjadi dua sesi yakni pemaparan hasil uji petik dan diskusi permasalahan lapangan. Setiap kabupaten diberikan kesempatan melaporkan kondisi terkini pelaksanaan OPLAH, termasuk progres kontrak, penyaluran dana, serta kehadiran konsultan pengawas.

Baca Juga :  Gubernur Miq Iqbal Dapat Wejangan dan ‘Resep Rahasia’ dari Ketua MPR untuk Wujudkan NTB Makmur Mendunia

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bima menyoroti pentingnya kesesuaian antara Rencana Usulan Kebutuhan Kelompok (RUKK) dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Menanggapi hal itu, perwakilan Irjen menjelaskan bahwa penyusunan RUKK merupakan kewajiban kelompok tani, namun sering kali perlu pendampingan teknis agar hasilnya akurat.

“Kewajiban pembuatan RUKK memang di kelompok, tapi kalau mereka buat sendiri sering terjadi bias. Karena itu, kami sarankan penyusunan RUKK melibatkan konsultan pengawas atau konsultan perencana. Tolong dicek ulang siapa yang menyusun RUKK di lapangan,” jelasnya.

Ia menegaskan, keterlibatan konsultan akan meminimalkan kesalahan teknis serta memastikan kesesuaian antara kebutuhan riil di lapangan dengan perhitungan biaya dalam RAB.

“Konsultan pengawas tentu memahami kebutuhan dalam RAB, sehingga menjamin kesesuaian antara dokumen perencanaan dan pelaksanaan,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan semakin solid. Pendampingan OPLAH 2025 menjadi momentum memperkuat tata kelola pertanian agar pelaksanaannya efektif, transparan, dan memberi manfaat nyata bagi peningkatan produksi pangan di Provinsi NTB.

 

Berita Terkait

Satgas Desa Berdaya Resmi Dibentuk, Pemprov NTB Siap Sikat Program Tak Tepat Sasaran hingga ke Desa
Sekda NTB Abul Chair Tegaskan Desa Berdaya Jadi Mesin Utama Pengentasan Kemiskinan
Amerika Serikat Dalami Tambang Rakyat Lantung Sumbawa, Soroti Lingkungan dan Tata Kelola SDA
NTB Terapkan Metode Baru Percepat Penanganan Stunting, Desa Sakra Lombok Timur Jadi Pilot Project
Tambang Rakyat Lantung Sumbawa Jadi Perhatian Amerika Serikat
KPU NTB dan Bawaslu NTB Touring Monitoring Coktas di Lombok Utara, Pastikan Data Pemilih Akurat
TPA Kebon Kongok di NTB Berpotensi Hasilkan 9 Juta Ton Gas Metana per Tahun, Siap Jadi Sumber Energi Alternatif
Wakil Ketua DPRD Lalu Wirajaya Hadiri Penutupan MTQ XXXI NTB 2026, Dorong Lahirnya Generasi Qurani Berprestasi
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:05 WIB

Satgas Desa Berdaya Resmi Dibentuk, Pemprov NTB Siap Sikat Program Tak Tepat Sasaran hingga ke Desa

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:59 WIB

Sekda NTB Abul Chair Tegaskan Desa Berdaya Jadi Mesin Utama Pengentasan Kemiskinan

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:45 WIB

Amerika Serikat Dalami Tambang Rakyat Lantung Sumbawa, Soroti Lingkungan dan Tata Kelola SDA

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:27 WIB

NTB Terapkan Metode Baru Percepat Penanganan Stunting, Desa Sakra Lombok Timur Jadi Pilot Project

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:19 WIB

Tambang Rakyat Lantung Sumbawa Jadi Perhatian Amerika Serikat

Berita Terbaru

Suasana diskusi antara Delegasi Konsulat Amerika Serikat dan Bupati serta perangkat daerah Kabupaten Sumbawa terkait tambang rakyat Lantung.

Pemerintahan

Tambang Rakyat Lantung Sumbawa Jadi Perhatian Amerika Serikat

Rabu, 17 Jun 2026 - 14:19 WIB