Kearifan Lokal dan Pelestarian Budaya di Nusa Tenggara Barat: Antara Warisan Leluhur dan Tantangan Zaman

Avatar

- Jurnalis

Senin, 26 Mei 2025 - 17:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Syamsurrizal (Penggiat Budaya dan Pegawai Di Dinas Pariwisata NTB)

Pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) menyuguhkan lebih dari sekadar panorama alam yang memesona. Di balik pantai dan pegunungan yang menawan, tersimpan kekayaan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Tradisi seperti Bau Nyale, permainan presean, serta kehidupan di desa adat Sade dan Ende bukan hanya atraksi, tetapi representasi dari nilai-nilai filosofis dan spiritual masyarakat lokal (Wibowo & Belia, 2023). Namun, di tengah derasnya arus modernisasi dan komersialisasi pariwisata, pelestarian budaya lokal menghadapi ancaman yang tidak bisa diabaikan (Komalasari & Herwangi, 2023).

Epistemologi: Menyelami Makna Budaya Lewat Pengetahuan Lokal

Pengetahuan budaya di NTB diwariskan secara lisan, melalui interaksi sosial, serta didokumentasikan dalam kajian ilmiah (Djunaid et al., 2024). Festival Bau Nyale, misalnya, bukan semata ritual menangkap cacing laut, melainkan refleksi atas legenda Putri Mandalika yang mengandung pesan pengorbanan dan persatuan. Sayangnya, banyak wisatawan yang hanya melihat permukaannya sebagai tontonan budaya, tanpa memahami makna yang lebih dalam (Ayu, 2023).

Ontologi: Budaya sebagai Fondasi Identitas

Budaya di NTB sejatinya bukan objek eksotis, melainkan bagian dari realitas hidup masyarakat (Wibawa & Budiasa, 2018). Rumah adat Sasak mencerminkan tatanan sosial dan nilai spiritual. Kain tenun bukan hanya hasil kerajinan, tapi simbol status dan peran perempuan. Ketika budaya diposisikan sebagai komoditas semata, esensinya pun mulai terkikis (Sumantri, 2019).

Aksiologi: Budaya untuk Pemberdayaan, Bukan Sekadar Konsumsi

Baca Juga :  Bunda Sinta Dorong Duta Remaja Pariwisata NTB Jadi Wajah Promosi Seni, Budaya, dan Pariwisata Daerah

Pariwisata berbasis budaya harus berlandaskan pada etika dan pemberdayaan masyarakat (Purbadi & Lake, 2019). Budaya lokal harus menjadi media untuk menghidupkan nilai-nilai luhur dan membuka ruang partisipasi aktif masyarakat, bukan menjadikannya sekadar dekorasi dalam paket wisata (Soedarmo et al., 2021). Desa wisata idealnya memberdayakan warga sebagai subjek aktif, bukan penonton pasif (Prasetyo et al., 2021).

Pelibatan generasi muda menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan budaya. Mereka harus diberi ruang untuk terus menenun, mendongeng, dan mengambil peran dalam upacara adat. Tanpa itu, tradisi hanya akan tinggal sebagai dokumentasi visual tanpa kehidupan.

Tantangan Pelestarian: Antara Komodifikasi dan Krisis Pewarisan

Budaya di NTB—baik di kalangan Sasak, Samawa, maupun Mbojo—menghadapi tekanan besar akibat modernisasi. Ritual Nyongkolan, Barapan Kebo, dan seni tutur mulai kehilangan nilai spiritualnya karena diarahkan semata untuk kepentingan pariwisata (Islamy, 2019; Susanti et al., 2021). Pewarisan budaya yang dahulu dilakukan secara lisan kini tergantikan oleh budaya digital, memperlebar jarak antara generasi tua dan muda (Rahayu et al., 2023).

Secara ontologis, budaya tidak lagi dianggap sebagai bagian esensial dari jati diri. Ia berubah menjadi tontonan, kehilangan konteks sosial dan spiritualnya. Akibatnya, budaya mengalami fragmentasi dan dekontekstualisasi dalam bingkai industri pariwisata.

Dari sisi aksiologi, nilai edukatif dan moral dalam budaya perlahan tergeser oleh kepentingan ekonomi. Ketika pelestarian budaya hanya dilihat sebagai peluang pasar, keterlibatan masyarakat pun menurun, dan budaya kehilangan roh utamanya sebagai fondasi sosial (Poetra & Nurjaya, 2024; Zohdi et al., 2023).

Baca Juga :  Di Konferensi Internasional, Pj Gubernur NTB Promosi Keindahan Lombok-Sumbawa

Peran Generasi Muda: Penjaga, Pewaris, dan Inovator Budaya

Generasi muda NTB memegang peran sentral sebagai penjaga dan penerus budaya. Mereka harus memahami akar tradisi, tidak hanya dari sisi bentuk, tetapi juga nilai dan makna di baliknya (Kharisma et al., 2022). Pendidikan kontekstual dan media kreatif dapat menjadi alat penting untuk membangun narasi baru yang relevan dengan tantangan zaman (Ariffin et al., 2023).

Budaya harus dihidupi, bukan hanya ditampilkan. Generasi muda perlu menginternalisasi nilai-nilai luhur seperti gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan harmoni sosial sebagai bagian dari jati diri. Lewat pendekatan kreatif, mereka bisa menjadi duta budaya yang memadukan kearifan lokal dengan inovasi digital.

Untuk mendukung peran ini, dibutuhkan ekosistem yang kondusif: sinergi antara lembaga pendidikan, komunitas adat, dan pelaku industri pariwisata. Pendidikan berbasis budaya dan program pelatihan kepemudaan berbasis lokal menjadi langkah konkret yang perlu diakselerasi (Orchidamoty et al., 2023).

Penutup: Jalan Filosofis Menuju Pelestarian Berkelanjutan

Pelestarian budaya bukan sekadar agenda pelengkap dalam pembangunan pariwisata. Ia adalah inti dari pembangunan manusia yang berakar pada nilai, identitas, dan kearifan. Dengan pendekatan epistemologis, ontologis, dan aksiologis, NTB dapat menjadi model pariwisata berbasis budaya yang tak hanya menarik wisatawan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga warisan leluhur.

Berita Terkait

Gubernur NTB Tegaskan Birokrasi Jangan Bergantung pada Pemimpin, Politisi Datang dan Pergi
UNRAM Siap Dukung Transformasi Sumbawa, Bupati Jarot Buka Suara
Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK, 19 Orang dan Uang Ratusan Juta Diamankan, Diduga Terkait Proyek Pemkab
Ketua PERKEMI NTB Syamsuriansyah Siapkan Beasiswa Kuliah Gratis untuk Juara Shorinji Kempo Porprov NTB 2026
Shorinji Kempo Porprov NTB 2026 Resmi Bergulir, 101 Atlet dari Delapan Daerah Siap Berebut Medali
Nobar Final Piala Dunia Satukan Ribuan Warga, Pemprov NTB Apresiasi Antusiasme Masyarakat
IPM NTB 2025 Naik Signifikan, Kolaborasi Menjadi Kunci Akselerasi
Pemprov NTB Perketat Pengawasan Program MBG, SPPG Tak Patuh Terancam Dievaluasi hingga Dihentikan
Berita ini 264 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 20:55 WIB

Gubernur NTB Tegaskan Birokrasi Jangan Bergantung pada Pemimpin, Politisi Datang dan Pergi

Senin, 20 Juli 2026 - 18:23 WIB

UNRAM Siap Dukung Transformasi Sumbawa, Bupati Jarot Buka Suara

Senin, 20 Juli 2026 - 16:47 WIB

Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK, 19 Orang dan Uang Ratusan Juta Diamankan, Diduga Terkait Proyek Pemkab

Senin, 20 Juli 2026 - 14:23 WIB

Ketua PERKEMI NTB Syamsuriansyah Siapkan Beasiswa Kuliah Gratis untuk Juara Shorinji Kempo Porprov NTB 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 13:55 WIB

Shorinji Kempo Porprov NTB 2026 Resmi Bergulir, 101 Atlet dari Delapan Daerah Siap Berebut Medali

Berita Terbaru

Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. menerima kunjungan silaturahmi Rektor Universitas Mataram (UNRAM) Prof. Dr. Sukardi, M.Pd. bersama jajaran di Kantor Bupati Sumbawa untuk memperkuat kolaborasi pembangunan daerah melalui riset, hilirisasi, inovasi, dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

Pemerintahan

UNRAM Siap Dukung Transformasi Sumbawa, Bupati Jarot Buka Suara

Senin, 20 Jul 2026 - 18:23 WIB