Beberapa Fakta Seputar Siti Rahmani Rauf: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Menerangi Dunia Pendidikan Indonesia

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 7 Februari 2025 - 11:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siti Rahmani Rauf, mengawali kariernya sebagai pengajar pada usia 18 tahun. Beliau menjadi guru di Padang selama 15 tahun sejak tahun 1938 hingga tahun 1953.

Pada tahun 1954, pindah ke Jakarta dan meneruskan profesinya sebagai guru hingga pensiun pada tahun 1976. Jabatan terakhirnya sebagai kepala sekolah SD Tanah Abang 5, Jakarta Pusat,

Sekitar tahun 1980-an, Siti Rahmani Rauf memperoleh tawaran proyek penyusunan alat peraga pelajaran Bahasa Indonesia dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Buku ‘Ini Budi’ diselesaikan kurang lebih setahun. Dicetak serta didistribusikan ke seluruh wilayah Jawa dan Sumatra.

Siapa sangka, dua kata sederhana, ‘Ani dan Budi‘, dalam buku ‘Ini Budi’ mampu mengubah lanskap pendidikan di Indonesia. Di balik sajak anak-anak yang sering kita hafal itu, tersimpan kisah inspiratif seorang guru besar bernama Siti Rahmani Rauf. Dengan metode inovatifnya, beliau berhasil menumbuhkan minat baca pada jutaan anak Indonesia.”

Karyanya sukses membantu para siswa menjadi lebih mudah dalam belajar membaca. Metode belajar baca ‘Ini Budi” sangat disukai bagi murid-murid SD era 80-90an.

Di tengah hiruk pikuk dunia digital, ada satu nama yang tak pernah lekang oleh waktu: Ibu Siti Rahmani Rauf. Beliau adalah sosok di balik sajak “Ani dan Budi” yang telah menjadi bagian dari masa kecil kita. Melalui kata-kata sederhana, beliau telah menanamkan benih kecintaan terhadap membaca pada generasi muda Indonesia.

Baca Juga :  Tak Mau Tertinggal, Pemprov NTB Gandeng DPD RI Dorong Jalan Waduruka-Sarae Ruma Bima Masuk IJD

Tahukah kamu siapa sosok di balik sajak “Ani dan Budi” yang menemani masa kecilmu? Beliau adalah Ibu Siti Rahmani Rauf, seorang guru besar yang telah memberikan kontribusi luar biasa pada pendidikan di Indonesia.

Berkat kreativitas beliau, jutaan anak Indonesia, khususnya generasi 60-90an, berhasil mengenal dunia membaca dan menulis. Sajak sederhana tentang Ani dan Budi menjadi pintu gerbang bagi kita semua untuk menjelajahi dunia literasi.
Mari kita sama-sama mengucapkan terima kasih kepada Ibu Siti Rahmani Rauf atas dedikasinya. Beliau adalah contoh nyata seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang patut kita teladani.

Seorang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang sebenarnya

Sudah seharusnya kita para pelajar angkatan tahun 1960-1990 sangat perlu berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada sosok ibu Siti Rahmani Rauf karena dari beliaulah kita dan jutaan anak Indonesia bisa membaca dan menulis.

Ia adalah pencipta sajak “Ani dan Budi” yang sering muncul pada pelajaran Bahasa Indonesia. Nama Ani dan Budi kerap menjadi contoh saat pelajaran membaca. Guru biasanya mendikte di depan kelas sambil mengajak murid-muridnya mengeja “I-ni Bu-di, I-ni I-bu Bu-di” atau “I-ni A-ni, I-ni I-bu A-ni”.

Siti Rahmani dilahirkan di Sumatera Barat pada 5 Juni 1919. Ia menjadi guru di tanah kelahirannya mulai tahun 1938 hingga 1953. Kemudian, pada tahun 1954, ia pindah ke Jakarta bersama suami dan keenam anak-anaknya hingga masa tuanya.

Baca Juga :  Terungkap! Ini Lokasi Tiga Koperasi Tambang di NTB yang Resmi Kantongi IPR

Sajak buatannya berjudul “Ani dan Budi” dijadikan sebagai contoh bagi para pelajar sekolah dasar angkatan tahun 1960-1990-an untuk belajar membaca. Melalui sajaknya, Siti Rahmani mengenalkan metode membaca Struktur Analitik Sintetik (SAS).

Hampir semua sekolah di Indonesia menggunakan pedoman itu. Metode ini bahkan masih populer sampai sekarang.
Siti Rahmani pun menerbitkan buku berjudul Ini Ibu Budi atas permintaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Akan tetapi, Siti Rahmani menolak menerima honor dari buku terbitannya.

Alasannya, ia cinta dunia pendidikan. Terlebih lagi, ia lebih mengutamakan agama dibanding materi. Ia hanya memiliki satu keinginan, yaitu berangkat haji.

Siti Rahmani Rauf tidak pernah meminta bayaran atas hasil karyanya. Semua dia dedikasikan atas kecintaannya pada dunia pendidikan.

Beliau cuma punya keinginan naik haji. Yang akhirnya terkabulkan setelah salah satu penerbit memberangkatkannya haji pada tahun 1986.

Siti Rahmani Rauf meninggal dunia pada tanggal 10 Mei 2016. Menutup mata di usia 96 tahun dan meninggalkan karya legenda ‘Ini Budi” yang akan terus diingat bagi generasi yang pernah membacanya.

 

Berita Terkait

Pemprov NTB Hapus Denda Pajak Kendaraan, Tunggakan di Atas 5 Tahun Diputihkan
Berjuang Lebih dari Dua Tahun, Tim Fahmil Putri Lombok Timur Sabet Juara MTQ XXXI NTB
Tiga Qari’ah Terbaik Melaju ke Final Tilawah Dewasa Putri MTQ XXXI NTB, Bima, Lombok Timur dan Lombok Tengah Siap Berebut Gelar Juara
Sumbawa Barat Juara Fahmil Putra MTQ XXXI NTB, Tim Gabungan Tiga Pesantren Bidik Prestasi Nasional
MTQ XXXI NTB Dongkrak Omzet UMKM, Pedagang Raup Pendapatan Hingga Rp700 Ribu per Hari
Babak Final MTQ XXXI NTB Dimulai, Finalis Terbaik dari 10 Daerah Siap Berebut Gelar Juara
MTQ XXXI Lombok Tengah Jadi Tonggak Baru, NTB Mantapkan Visi Serambi Al-Qur’an
Proyek Hilirisasi Ayam Dapat Suntikan Dana Awal Rp5 Triliun, Bima Masuk Tahap Pertama Pembangunan Nasional
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:09 WIB

Pemprov NTB Hapus Denda Pajak Kendaraan, Tunggakan di Atas 5 Tahun Diputihkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:59 WIB

Berjuang Lebih dari Dua Tahun, Tim Fahmil Putri Lombok Timur Sabet Juara MTQ XXXI NTB

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:40 WIB

Tiga Qari’ah Terbaik Melaju ke Final Tilawah Dewasa Putri MTQ XXXI NTB, Bima, Lombok Timur dan Lombok Tengah Siap Berebut Gelar Juara

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:04 WIB

Sumbawa Barat Juara Fahmil Putra MTQ XXXI NTB, Tim Gabungan Tiga Pesantren Bidik Prestasi Nasional

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:54 WIB

MTQ XXXI NTB Dongkrak Omzet UMKM, Pedagang Raup Pendapatan Hingga Rp700 Ribu per Hari

Berita Terbaru