SUMBAWAPOST.com |™ Lombok Barat- Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) mengembangkan Teknologi Pengolahan Sampah dan Air Lindi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Riset ini melibatkan Tiga Perguruan Tinggi, yakni IPB University, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan Universitas Mataram (Unram), bersama BRIDA Provinsi NTB.
Teknologi yang dikembangkan dirancang agar dapat diterapkan secara fleksibel di berbagai lokasi. Selain menangani persoalan Lingkungan, Teknologi tersebut diarahkan untuk menghasilkan manfaat Energi dan Ekonomi bagi Masyarakat.
Pengembangan Teknologi Portable menjadi salah satu hasil utama yang dibahas dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program RIKUB di Aula BRIDA Provinsi NTB, Jumat, (25/9/2026).
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, menyampaikan bahwa pengembangan Riset yang menghasilkan manfaat nyata bagi Masyarakat menjadi bagian penting dalam penyelesaian persoalan Pembangunan Daerah.
BRIDA NTB melihat Pengelolaan Sampah dan Lingkungan sebagai salah satu persoalan yang memerlukan dukungan Teknologi, Kolaborasi Perguruan Tinggi, serta penerapan hasil Riset di Lapangan.
“Kalau sampah tidak memiliki manfaat, edukasi kepada masyarakat akan sulit berjalan secara berkelanjutan. Karena itu, hasil riset ini harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Kepala BRIDA NTB.
Ketua Tim Konsorsium RIKUB, Dr. Eng. Obie Farobie dari Institut Pertanian Bogor, menjelaskan bahwa konsorsium RIKUB berawal dari persoalan pengelolaan sampah dan pencemaran lingkungan di sejumlah tempat pembuangan akhir (TPA) di NTB.
Produksi air lindi di TPA yang diperkirakan mencapai sekitar 50 meter kubik per hari menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani melalui pendekatan teknologi.
Dalam konsorsium tersebut, Masing-masing Perguruan Tinggi memiliki peran berbeda.
IPB berperan dalam optimalisasi proses pengolahan, termasuk menentukan rasio bahan, kebutuhan mikroba, dan hasil pengolahan.
ULM berkontribusi dalam pengembangan sistem pengolahan dan reaktor. Sementara Unram mengembangkan teknologi komputer dan Internet of Things (IoT) untuk pemantauan sistem.
Penerapan teknologi telah dilakukan di beberapa lokasi, antara lain Kebon Kongok, Lombok Barat, Pondok Al-Mukminin, dan lingkungan BRIDA NTB sebagai lokasi showcase.
Salah satu perangkat yang telah dipasang memiliki kapasitas sekitar 2 meter kubik dan telah beroperasi sebagai bagian dari pengujian Teknologi.
Dalam kegiatan monev di NTB, Prof. Hotniar menyampaikan bahwa keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan hasil riset RIKUB.
Menurutnya, teknologi yang telah dikembangkan perlu melalui validasi dan pengujian yang terukur sebelum direplikasi di lokasi lain. “Penelitian ini jangan hanya berakhir pada sistem dan laporan yang diunggah. Hasilnya harus memiliki keberlanjutan dan dapat dilihat manfaatnya setelah program selesai,” ujar Prof. Hotniar.
Prof. Hotniar juga menilai karakteristik sampah pada setiap lokasi perlu menjadi bagian dari kajian.
Perbedaan jenis dan komposisi sampah dapat memengaruhi kinerja teknologi sehingga pengujian harus disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Sementara itu, Prof. Dr. Elfahmi yang juga merupakan Rektor Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menekankan pentingnya konsorsium dan dampak dalam pengembangan hasil riset.
Menurutnya, teknologi yang dihasilkan perlu memiliki data kinerja yang valid, perhitungan teknis dan ekonomi yang jelas, serta kesiapan untuk diterapkan di lapangan.
Aspek biaya instalasi, operasional, pemeliharaan, kapasitas pengolahan, produksi energi, dan pemanfaatan produk turunan juga perlu dihitung sebagai dasar pengembangan teknologi dalam skala yang lebih luas.
Prof. Elfahmi juga menyarankan penyusunan katalog teknologi yang memuat spesifikasi, kapasitas, proses kerja, hasil pengolahan, biaya instalasi, kebutuhan pemeliharaan, serta hasil validasi.
Katalog tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dan calon pengguna dalam memahami Teknologi yang dikembangkan.
Sebagai anggota konsorsium, Dr. Eng. Apip Amrullah menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya mengolah air lindi, tetapi dapat dikombinasikan dengan sampah organik.
Sistem tersebut diharapkan dapat menghasilkan biogas dan produk samping yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk.
Salah satu sasaran perluasan penerapan teknologi portable adalah Sekolah.
Melalui model tersebut, siswa dapat membawa dan mengumpulkan sampah organik dari rumah untuk kemudian diolah di Sekolah.
Pendekatan ini menggabungkan penerapan Teknologi dengan edukasi pengelolaan sampah sejak dini.
Teknologi portable juga direncanakan untuk diterapkan di kawasan terdekat dengan TPA, seperti di Desa Taman Ayu dan beberapa lokasi lainnya.
Kawasan Gili Trawangan menjadi salah satu lokasi pengembangan dan perluasan penerapan yang mendapat perhatian karena keterbatasan lahan serta persoalan Sampah dan Air Limbah.
BRIDA menjelaskan bahwa hasil riset akan diarahkan untuk menjawab persoalan Masyarakat, termasuk pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, kemiskinan, pendidikan, dan pengembangan desa.
Model yang telah diuji di Kebon Kongok selanjutnya dapat menjadi referensi untuk penerapan pada lokasi lain dengan karakteristik persoalan yang serupa.
BRIDA bersama mitra juga menyiapkan penerapan di beberapa lokasi. Beberapa lokasi yang menjadi perhatian meliputi desa, Pondok Pesantren, Sekolah, TPA, serta Kawasan Wisata seperti Gili Trawangan dan Gili Air.
Kolaborasi pemerintah daerah, Perguruan Tinggi, Yayasan, Dunia Usaha, dan masyarakat menjadi bagian dari pengembangan model tersebut.
Melalui tahapan validasi, penyempurnaan teknologi, pengembangan IoT, analisis ekonomi, dan penyiapan model pemeliharaan, Program RIKUB diarahkan untuk menghasilkan teknologi pengelolaan sampah dan limbah yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Hasil riset tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi pada Daerah lain dengan Persoalan Lingkungan yang serupa.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










