SUMBAWAPOST.com|™ Bima- Gelombang perlawanan terhadap peredaran Narkoba menggema dari Desa Bolo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tidak hanya tokoh Masyarakat, aksi kali ini melibatkan Kepala Desa, BPD, Guru, Tokoh Pemuda, Kaum ibu, hingga berbagai elemen warga yang kompak turun ke jalan melakukan aksi boikot di jalur Nasional Bima-Sumbawa, tepatnya di Cabang Bolo, Senin (29/6/2026).

Aksi tersebut menjadi bentuk keresahan kolektif Masyarakat terhadap maraknya peredaran Narkotika yang dinilai semakin terbuka, mengkhawatirkan, dan mengancam masa depan generasi muda di Wilayah tersebut.
Warga menilai dampak Narkoba tidak hanya merusak kesehatan para penggunanya, tetapi juga memicu berbagai persoalan sosial seperti pencurian, perkelahian, kekerasan dalam rumah tangga, hingga tindakan melawan orang tua yang belakangan dinilai semakin sering terjadi.
Dengan membentangkan plan Stop penutup jalan menyampaikan orasi secara bergantian, masyarakat menegaskan satu pesan yang sama yakni perang terhadap Narkoba harus dilakukan secara serius dan tidak boleh berhenti pada slogan semata.
Di tengah aksi, suara lantang datang dari Fariati, seorang ibu yang mengaku merasakan langsung dampak buruk Narkoba dalam lingkungan keluarganya.
Menurutnya, Narkoba telah menjadi ancaman nyata yang perlahan menghancurkan masa depan generasi muda sekaligus merenggut ketenangan para orang tua.
“Barang haram ini dapat merusak generasi. Saya merasakan sendiri akibatnya ketika ada keluarga terdekat yang menggunakan Narkoba. Sebagai seorang ibu, rasanya tidak ada lagi harga diri dan kehormatan kita sebagai orang tua ketika melihat anak terjerumus. Seluruh masyarakat Bolo kompak, kalau ada yang menjual Narkoba ayo tangkap. Karena Narkoba sudah merusak generasi. Kalau pihak Kepolisian tidak mampu, kami yang akan melakukan sendiri,” tegas Fariati.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan penuh dari warga yang hadir dalam aksi sebagai bentuk kegelisahan terhadap situasi yang mereka nilai semakin memprihatinkan.
Ketua BPD Desa Bolo, Naser, mengatakan aksi boikot jalan dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus perlawanan terhadap maraknya peredaran Narkoba yang menurut warga belum ditangani secara maksimal.
Ia mengaku Masyarakat bersama pemerintah Desa telah berulang kali menyampaikan laporan dan informasi kepada pihak berwenang, namun hingga kini belum melihat hasil yang signifikan.
“Kami mengutuk peredaran Narkoba dan sebagai bentuk keseriusan sekaligus kekecewaan terhadap ketidakpedulian pihak Kepolisian, kami turun melakukan boikot jalan. Selama ini pihak Desa dan warga sudah menyampaikan laporan dan informasi, tetapi tidak pernah diindahkan. Kami sudah lelah, sudah capek. Aspirasi dan laporan kami sering diabaikan. Kami turun sebagai bentuk perlawanan dan kepedulian terhadap lingkungan, masyarakat, serta masa depan anak-anak kami agar bebas dari narkoba,” ujarnya.

Kepala Desa Bolo, Muhtar H. Idris, menegaskan bahwa aksi yang dilakukan masyarakat bukan bertujuan mengganggu pengguna jalan ataupun menghambat aktivitas masyarakat. Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk panggilan moral untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman Narkoba yang semakin mengkhawatirkan.
“Kami bukan hadir untuk menghalangi atau mengganggu pengguna jalan. Kami hadir untuk mengamankan generasi. Saya berharap Kapolsek Madapangga, Kasat Narkoba, dan Polres turun langsung dan serius menangani persoalan Narkoba, khususnya di Bolo, Madapangga, dan Bima secara umum. Laporan sudah kami sampaikan, tetapi belum pernah direspons sebagaimana harapan masyarakat,” katanya.
Dalam aksi tersebut, seorang guru SMAN 1 Madapangga yang akrab disapa Paman Joel turut menyampaikan seruan moral kepada masyarakat agar terus menjaga anak-anak dari ancaman Narkoba.
Ia menilai Narkoba telah membawa perubahan besar terhadap kondisi sosial yang selama ini dikenal aman dan kondusif.
“Mari bahu-membahu menjaga anak-anak kita, mulai dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar. Narkoba adalah musuh kita bersama. Saat ini Narkoba bukan lagi sesuatu yang baru dan sangat mudah diperoleh. Kita melihat sendiri bagaimana pencurian semakin marak, mulai dari sarung hingga peralatan dapur. Dulu hal seperti itu jarang terjadi. Sekarang masyarakat bahkan takut meninggalkan rumah dalam keadaan kosong karena rawan terjadi pencurian,” ungkapnya.

Koordinator aksi, Ikhwan atau yang lebih dikenal dengan sapaan Iwan Jonfe, menegaskan bahwa gerakan masyarakat Bolo lahir dari keresahan panjang yang selama ini dirasakan warga.
Menurutnya, perang terhadap Narkoba harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa karena dampaknya sangat luas dan menghancurkan.
“Narkoba adalah penyakit dan penghancur generasi. Saya hadir hari ini karena melihat kesedihan dan keluhan masyarakat Desa kami serta masyarakat Kabupaten Bima pada umumnya. Komitmen untuk memberantas Narkoba akan terus kami suarakan agar aparat penegak hukum benar-benar menindak tegas sampai ke akar-akarnya,” tegasnya.
Ia juga meminta Presiden RI untuk memperkuat langkah pemberantasan Narkoba melalui aparat penegak hukum di seluruh Indonesia.
“Kami meminta Bapak Presiden Prabowo Subianto, Polda NTB, Polres menindak tegas semuanya melalui jajaran kepolisian dan penegak hukum. Narkoba adalah kejahatan luar biasa. Tidak ada tawar-menawar. Bahkan menurut saya, dampaknya lebih kejam dari pembunuhan, pencurian, bahkan korupsi. Narkoba merampas masa depan generasi, memicu pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan sosial lainnya. Jika generasi sudah terjangkit Narkoba, sama saja masa depan bangsa dirampas perlahan-lahan,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh Masyarakat untuk tidak takut melawan peredaran Narkoba dan terus menjaga keluarga masing-masing dari ancaman barang haram tersebut.
“Mari kita bersama-sama menjaga keluarga kita. Jangan takut dan tetap kompak. Narkoba adalah kejahatan yang sangat biadab dan keji. Ia tidak mengenal usia, latar belakang, maupun status sosial. Karena itu perang melawan Narkoba harus menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Aksi boikot jalan yang dilakukan warga Desa Bolo di jalur Nasional asional Bima–Sumbawa tersebut menjadi simbol kuat perlawanan masyarakat terhadap peredaran narkoba. Warga berharap suara yang mereka sampaikan menjadi perhatian serius aparat penegak hukum agar pemberantasan Narkoba dilakukan secara lebih tegas, terukur, dan berkelanjutan demi menyelamatkan masa depan generasi Bima.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










