SUMBAWAPOST.com| Jakarta- Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) yang digagas pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama PT Berdikari mulai memasuki tahap realisasi. Proyek strategis nasional di sektor perunggasan tersebut memperoleh dukungan dana awal sekitar Rp5 triliun dan akan dikembangkan di sejumlah Daerah, termasuk Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB)
Program ini diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak industri unggas Nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan, memperluas investasi Daerah, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan pengembangan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi akan dilaksanakan di Provinsi Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung.
Menurutnya, proyek tersebut dijalankan oleh PT Berdikari, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah holding pangan nasional ID Food.
Agung menjelaskan bahwa dana awal yang telah disetujui untuk mendukung pengembangan proyek mencapai sekitar Rp5 triliun dan pencairannya akan dilakukan secara bertahap sesuai tahapan pembangunan.
“Dan untuk pencairannya itu dilakukan secara bertahap,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima media ini. Sabtu (13/6/2026).
Ia mengungkapkan, proyek tersebut telah memperoleh persetujuan dari PT Danantara Asset Management (DAM) setelah melalui proses studi kelayakan yang komprehensif.
Sebagai langkah awal, PT Berdikari akan mengajukan penggunaan anggaran persiapan sebesar Rp16,7 miliar kepada ID Food guna mendukung pembangunan berbagai fasilitas dasar yang dibutuhkan.
Pada tahap pertama, pembangunan di Gorontalo akan difokuskan pada pabrik pakan ayam dan farm parent stock atau peternakan indukan ayam. Fasilitas serupa juga akan dibangun di Kabupaten Bima yang ditetapkan sebagai salah satu lokasi prioritas pengembangan kawasan peternakan ayam terintegrasi nasional.
Masuknya Kabupaten Bima dalam tahap awal pembangunan proyek tersebut disambut positif oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhammad Riadi. Menurutnya, pembangunan fasilitas pakan dan pembibitan unggas merupakan kebutuhan yang telah lama dinantikan peternak di NTB.
“Kalau kita bicara kesiapan mendukung program ini, justru kami yang merindukan program ini. Persoalan peternak kami di NTB itu ada pada pakan dan bibit. Karena itu kami sangat berharap pabrik pakan dan parent stock segera dibangun di NTB,” ujar Riadi.
Ia menjelaskan, NTB memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan industri unggas nasional karena produksi jagung daerah mencapai sekitar 2 juta ton per tahun. Namun, sebagian besar kebutuhan pakan ternak masih harus didatangkan dari luar daerah sehingga meningkatkan biaya produksi peternak.
“Selama ini pakan masih didatangkan dari Pulau Jawa. Harus menyeberang lewat Bali kemudian ke Lombok dan Sumbawa. Biaya distribusi menjadi tinggi dan akhirnya membebani peternak,” katanya.
Menurut Riadi, kehadiran pabrik pakan dan parent stock di Kabupaten Bima akan memperkuat rantai pasok unggas, meningkatkan efisiensi produksi, sekaligus memperbesar daya saing peternak di kawasan timur Indonesia.
Sementara itu, pembangunan farm grand parent stock atau peternakan induk inti saat ini telah berjalan di Jawa Timur. Adapun proyek di Sulawesi Selatan dan Lampung masih menunggu persetujuan penggunaan anggaran persiapan.
Agung menegaskan bahwa meskipun pembangunan dilakukan secara bertahap, pembentukan ekosistem usaha peternakan telah mulai disiapkan sejak sekarang.
“Walaupun pembangunannya bertahap atau berproses, tetapi ekosistemnya sudah mulai kami siapkan, kami bentuk,” ucap Agung yang juga menjabat Komisaris Utama PT Berdikari.
Ia menambahkan, PT Berdikari telah menjalin kerja sama dengan kelompok dan koperasi peternak budidaya di berbagai daerah. Bahkan Kabupaten Cianjur telah dijadikan lokasi percontohan dalam pengembangan ekosistem peternakan yang nantinya akan diterapkan di wilayah lain.
Agung menyebut total nilai investasi Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi mencapai Rp16,7 triliun dan ditargetkan berkembang di 30 provinsi hingga tahun 2036.
Program tersebut menargetkan pembangunan 337 unit peternakan, penyerapan sekitar 1,46 juta tenaga kerja, produksi daging ayam hingga 1,5 juta ton, serta produksi telur ayam mencapai 1 juta ton.
“Kalau ekosistemnya sudah terbentuk, daerah tidak lagi hanya menjadi pasar. Daerah bisa menjadi pusat produksi yang mampu memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri bahkan memasok daerah lain,” tegasnya.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










