Menakar Kerentanan Sosial di Balik ‘20 Hari’ Cadangan BBM

Avatar

- Jurnalis

Sabtu, 7 Maret 2026 - 02:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Hukum Unram, Adyaksa, menganalisis kerentanan sosial di balik cadangan BBM nasional 20 hari dalam perspektif sosial dan ekonomi.

Mahasiswa Hukum Unram, Adyaksa, menganalisis kerentanan sosial di balik cadangan BBM nasional 20 hari dalam perspektif sosial dan ekonomi.

Oleh: Adyaksa, Mahasiswa Hukum Universitas Mataram (Wakil Bidang Kajian Strategis, Kelompok Pemerhati Sosial-KPS FHISIP Unram)

PERNYATAAN Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang menyebut cadangan BBM nasional aman untuk 20 hari (2/3/2026), sekilas terdengar menenangkan. Secara teknokratis, angka ini tampak sebagai batas operasional yang masih terkendali. Namun, ketika dibawa ke ranah sosial, angka 20 hari justru menyimpan kerentanan signifikan yang tidak bisa diabaikan.

Bagi masyarakat Indonesia yang sangat bergantung pada mobilitas berbasis BBM, durasi tersebut bukan zona aman, melainkan ambang batas psikologis. Energi di titik ini tidak lagi sebatas persoalan ekonomi atau logistik, melainkan fondasi bagi stabilitas sosial itu sendiri.

Menurut analisis Kajian Strategis (Kastrat) Komunitas Pemerhati Sosial FHISIP Unram, energi di Indonesia lebih dari sekadar komoditas. Ia berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga keseimbangan relasi dalam masyarakat. Ketika akses energi terganggu, yang terancam bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga kepercayaan publik terhadap negara.

Fenomena ini dalam kajian sosiologi dikenal sebagai erosi kontrak sosial, yakni ketika hubungan timbal balik antara negara dan warga mengalami tekanan. Kerentanan ini semakin nyata jika cadangan BBM benar-benar mendekati titik habis tanpa kepastian pasokan lanjutan.

Dalam skenario tersebut, masyarakat menghadapi psikologi kelangkaan, panic buying menjadi respons kolektif yang sulit dihindari. Antrean panjang di SPBU bukan sekadar fenomena logistik, melainkan ruang potensial bagi konflik horizontal.

Lebih jauh, situasi ini bisa berkembang menjadi anomie, kondisi ketika norma sosial kehilangan daya ikatnya. Dalam tekanan kebutuhan dasar, individu cenderung bertindak di luar batas keteraturan sosial, sehingga ketertiban publik rapuh dan konflik antarwarga meningkat.

Analisis Kastrat FHISIP Unram menyoroti bahwa kelompok yang paling rentan adalah sektor informal. Jutaan pengemudi ojek online, kurir logistik, hingga pedagang keliling sangat bergantung pada ketersediaan BBM.

Ketika distribusi energi terganggu, sumber penghasilan mereka terhenti secara instan. Dalam skala luas, hal ini menciptakan guncangan ekonomi mikro yang masif, yang berpotensi memicu kriminalitas dan ketegangan sosial.
Krisis BBM juga terkait erat dengan ketahanan pangan.

Sistem distribusi bahan pokok di Indonesia masih sangat bergantung pada transportasi darat berbasis BBM. Gangguan pasokan bahan bakar akan memicu kelangkaan barang dan lonjakan harga yang signifikan.

Dalam banyak kasus di negara berkembang, kombinasi krisis energi dan pangan merupakan pemicu utama instabilitas sosial. Oleh karena itu, angka ‘20 hari’ seharusnya tidak dibaca sebagai jaminan keamanan, melainkan peringatan dini. Ketahanan energi tidak cukup diukur dari kemampuan bertahan jangka pendek, tetapi dari kesiapan menghadapi ketidakpastian jangka panjang.

Pemerintah perlu melampaui narasi ‘stok aman’ dan membangun kepercayaan publik melalui transparansi serta strategi mitigasi yang jelas. Tanpa langkah ini, angka yang dimaksudkan untuk menenangkan justru berpotensi memicu kecemasan kolektif.

Pada akhirnya, kedaulatan energi bukan sekadar soal ketersediaan bahan bakar, tetapi soal bagaimana negara memastikan kehidupan sosial tetap berjalan stabil dalam kondisi apa pun. Ketika energi terganggu, yang dipertaruhkan bukan hanya ekonomi, melainkan juga fondasi sosial bangsa itu sendiri.

 

Berita Terkait

Pernah Jadi Orang Nomor Satu di Polri, Kini Tersangka! Ini Jejak Karier dan Kekayaan Jenderal Bintang Empat Listyo Sigit
Geger Kabar Sejumlah Jenderal Polri Ditangkap dan Diamankan di Mako Brimob, Ini Respons Mabes Polri
Bikin ASN Betah Ngantor, Wagub NTB Puji Disnakertrans Sulap Pekarangan Jadi Kebun Produktif
Okupansi Hotel di NTB Merosot, Tingkat Hunian Hotel Berbintang Turun Jadi 44,86 Persen
Bukan Sekadar Terima Beasiswa, 100 Mahasiswa Unram Ditantang Jadi Penggerak Pertanian Modern
Tak Cuma Beri Beasiswa ke Mahasiswa Unram, JHL Siapkan Investasi Pabrik Kelapa di NTB
100 Mahasiswa Pertanian Unram Terima Beasiswa Kelapa dari Yayasan JHL Merah Putih Kasih
Ekspor NTB Tembus Rp6,94 Triliun, Daya Tukar Petani Menguat, Produksi Padi dan Jagung Naik
Berita ini 106 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 21:45 WIB

Pernah Jadi Orang Nomor Satu di Polri, Kini Tersangka! Ini Jejak Karier dan Kekayaan Jenderal Bintang Empat Listyo Sigit

Selasa, 3 November 2026 - 17:05 WIB

Geger Kabar Sejumlah Jenderal Polri Ditangkap dan Diamankan di Mako Brimob, Ini Respons Mabes Polri

Selasa, 3 November 2026 - 13:11 WIB

Bikin ASN Betah Ngantor, Wagub NTB Puji Disnakertrans Sulap Pekarangan Jadi Kebun Produktif

Selasa, 3 November 2026 - 08:07 WIB

Okupansi Hotel di NTB Merosot, Tingkat Hunian Hotel Berbintang Turun Jadi 44,86 Persen

Senin, 2 November 2026 - 17:44 WIB

Bukan Sekadar Terima Beasiswa, 100 Mahasiswa Unram Ditantang Jadi Penggerak Pertanian Modern

Berita Terbaru