SUMBAWAPOST.com|™ Dompu-Berawal dari Kegiatan Perkuliahan di Gedung Pinjaman, Yayasan Pendidikan Islam Dompu (YAPIS) kini memiliki kampus seluas kurang lebih Tiga Hektare di Desa Sorisakolo, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Perjalanan panjang tersebut menjadi bukti perjuangan membangun Pendidikan Tinggi di tengah keterbatasan fasilitas pada masa awal.
Kisah perjalanan YAPIS Dompu itu disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Islam Dompu, Arman Anwar Manan, SE, dalam sambutannya pada Wisuda Sarjana ke-12 STKIP YAPIS Dompu Tahun Akademik 2025/2026.
Sambutan tersebut dibacakan oleh istrinya, Nadirah Al Habsyi, AE., Akt, anggota DPRD Provinsi NTB, Ketua DPW PBB NTB, Ketua Cabor Panjat Tebing NTB, Mahasiswa Magister Universitas Mataram (Unram), sekaligus Anggota Komisi V DPRD NTB satu-satunya Perempuan dari Pulau Sumbawa.
Dalam kesempatan itu, Nadirah menyoroti pentingnya menjaga perjuangan para pendiri dan melanjutkan pengabdian YAPIS Dompu dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.
“Perjalanan YAPIS Dompu dari gedung pinjaman hingga memiliki kampus sendiri merupakan bukti bahwa membangun Pendidikan membutuhkan perjuangan Panjang, Kesabaran, dan Komitmen yang kuat. Fondasi yang telah diletakkan para pendiri harus dijaga dan dikembangkan agar manfaatnya semakin luas bagi Masyarakat,” demikian Nadirah Al Habsyi sampaikan, dalam keterangan yang diterima media ini. Kamis (22/2026).
Yayasan Pendidikan Islam Dompu berdiri pada 2000, dirintis oleh almarhum H. Anwar H. Manan bersama Hj. Sarfiah binti Idris. Pada tahun yang sama, berdiri pula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YAPIS Dompu atau STIE YAPIS Dompu.
Pada masa awal, kegiatan perkuliahan belum memiliki fasilitas sendiri. Proses pendidikan dilaksanakan dengan meminjam gedung Sekolah Cokro Aminoto di Kelurahan Karijawa. Setelah itu, kegiatan perkuliahan berpindah ke gedung SD Negeri 15 di Kelurahan Bali, Kabupaten Dompu.
Keterbatasan fasilitas tersebut tidak menghentikan upaya yayasan dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi bagi masyarakat.
Menanggapi perjalanan tersebut, Nadirah Al Habsyi menilai sejarah YAPIS Dompu menyimpan pelajaran tentang ketekunan dalam membangun Lembaga Pendidikan.
“Tidak semua Lembaga Pendidikan memulai perjalanannya dengan fasilitas yang lengkap. YAPIS Dompu menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang. Yang terpenting adalah menjaga Niat, Konsistensi, dan tanggung jawab dalam memberikan Layanan Pendidikan kepada Masyarakat,” katanya.
Pada rentang 2004–2005, kegiatan Pendidikan akhirnya berpindah ke gedung milik sendiri di Sawete Timur, Kelurahan Bali. Kehadiran gedung tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam Pengembangan Lembaga.
Pengembangan Pendidikan berlanjut pada 2009 dengan berdirinya STKIP YAPIS Dompu. Perkuliahan perdana dilaksanakan di bangunan baru berlantai dua di Sawete Timur, Kelurahan Bali, yang saat ini digunakan oleh STIE YAPIS Dompu.
Pada awal pendiriannya, STKIP YAPIS Dompu membuka Dua program studi sarjana, yakni Pendidikan Sejarah serta Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Pada 2012, yayasan mengusulkan empat program studi baru. Pada tahun yang sama, izin penyelenggaraan program studi tersebut diterbitkan, meliputi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Teknologi Informasi (PTI), serta Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR).
Dengan penambahan tersebut, STKIP YAPIS Dompu berkembang menjadi perguruan tinggi dengan enam program studi sarjana yang diselenggarakan hingga saat ini.
Menurut Nadirah Al Habsyi, keberlanjutan pengembangan program studi menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan Pendidikan Masyarakat dan dunia kerja.
“Perguruan tinggi di Daerah harus terus berkembang, bukan hanya bertahan. Program studi yang diselenggarakan perlu menjawab kebutuhan Masyarakat, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meraih masa depan melalui Pendidikan,” terangnya.
Seiring meningkatnya minat Masyarakat Dompu untuk melanjutkan Pendidikan di STKIP YAPIS Dompu, yayasan menyadari perlunya lahan dan bangunan Kampus yang lebih luas.
Yayasan kemudian membeli tanah seluas kurang lebih tiga hektare di Desa Sorisakolo, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, dan memulai pembangunan kampus baru.
Pada rentang akhir 2014 hingga 2015, kegiatan Perkuliahan mulai dilaksanakan di Kampus tersebut. Lokasi itu menjadi tempat penyelenggaraan Pendidikan STKIP YAPIS Dompu hingga sekarang.
Pengembangan fasilitas terus dilakukan untuk menunjang kegiatan akademik. Di atas lahan tersebut telah berdiri bangunan ruang perkuliahan dan lapangan futsal berstandar nasional dengan permukaan interlock. Gedung baru berlantai dua juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas kampus.
Pada 2024, Yayasan Pendidikan Islam Dompu kembali memperkuat aset pendidikannya dengan membeli tanah dan bangunan Pondok Pesantren Al-Amin yang berada di Desa Sorisakolo.
Bagi Nadirah Al Habsyi, keberadaan sarana Pendidikan di daerah memiliki arti strategis untuk memperluas kesempatan belajar bagi generasi muda, khususnya masyarakat Pulau Sumbawa.
“Pendidikan tinggi yang tumbuh di daerah memiliki peran besar dalam membuka akses bagi anak-anak kita untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, pengembangan kampus harus dibarengi dengan peningkatan mutu akademik, fasilitas yang memadai, serta perhatian terhadap kebutuhan mahasiswa,” terang Nadirah Al Habsyi menyampaikan Pesan Ketua Yayasan.
Ia juga memandang bahwa pengembangan kampus perlu dilakukan secara terukur agar pertumbuhan sarana berjalan seiring dengan peningkatan kualitas Pendidikan.
“Pembangunan kampus bukan semata-mata tentang luas lahan atau banyaknya gedung. Yang paling penting adalah bagaimana fasilitas itu mendukung proses belajar, meningkatkan kualitas lulusan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” imbuhnya.
Perjalanan YAPIS Dompu juga diwarnai kehilangan sosok pendiri. Pada 17 Ramadan 2017, H. Anwar H. Manan berpulang ke rahmatullah.
Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan keluarga besar YAPIS Dompu. Dalam sambutannya, Arman mengajak hadirin mendoakan almarhum agar memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT serta menjadikan pengabdiannya di bidang Pendidikan sebagai amal jariah.
Setelah kepergian ayahandanya, amanah sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Dompu dipercayakan kepada Arman. Sejak 2017 hingga saat ini, ia berupaya meneruskan perjuangan tersebut bersama jajaran yayasan.
Bagi Arman, melanjutkan kepemimpinan berarti menjaga cita-cita para pendiri sekaligus memenuhi kepercayaan masyarakat melalui keputusan yang bertanggung jawab, pelayanan pendidikan yang lebih baik, dan kesediaan memperbaiki kekurangan.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada ibundanya, Hj. Sarfiah binti Idris, yang bersama almarhum telah meletakkan fondasi yayasan.
Nadirah Al Habsyi menilai amanah para pendiri harus diteruskan melalui kerja nyata dan tata kelola lembaga yang bertanggung jawab.
“Warisan terbesar para pendiri bukan hanya bangunan atau aset, melainkan cita-cita untuk mencerdaskan masyarakat. Amanah itu harus diteruskan dengan menjaga kepercayaan publik, memperbaiki kekurangan, dan memastikan lembaga pendidikan terus memberikan pelayanan terbaik,” bebernya.
Setelah melewati berbagai tahap pengembangan, Yayasan Pendidikan Islam Dompu kini memiliki cita-cita memperluas layanan pendidikan tinggi melalui rencana pengembangan STKIP YAPIS Dompu menuju bentuk universitas.
Sejumlah bidang yang masuk dalam gagasan pengembangan meliputi pertanian, peternakan, hukum, ekonomi, dan pertambangan. Namun, rencana tersebut perlu disiapkan secara bertahap melalui kajian kelayakan, kesiapan dosen, sarana pembelajaran, pembiayaan, serta pemenuhan ketentuan perizinan.
Yayasan berharap pengembangan itu dapat membuka lebih banyak pilihan pendidikan tinggi bermutu bagi generasi muda Dompu.
Terkait rencana tersebut, Nadirah Al Habsyi menekankan pentingnya perencanaan yang matang agar pengembangan kelembagaan tidak hanya menjadi ambisi, tetapi dapat diwujudkan dengan kesiapan akademik dan dukungan fasilitas.
“Keinginan mengembangkan STKIP YAPIS Dompu menjadi universitas merupakan cita-cita besar yang perlu dipersiapkan secara serius. Kesiapan program studi, tenaga dosen, sarana prasarana, pembiayaan, dan seluruh persyaratan harus menjadi perhatian agar pengembangan itu benar-benar berkelanjutan,” sebutnya.
Capaian akademik yang telah diraih juga menjadi bekal bagi pengembangan tersebut. Hingga September 2026, STKIP YAPIS Dompu telah memperoleh akreditasi institusi Baik Sekali dan seluruh enam program studi sarjananya juga telah terakreditasi Baik Sekali.
Di tingkat Nasional, kampus tersebut juga mencatat capaian dalam klasterisasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, program Kampus Mengajar, serta Pertukaran Mahasiswa Merdeka.
Sebagai anggota Komisi V DPRD NTB yang mewakili Pulau Sumbawa Dapil NTB IV (Bima, Dompu dan Kota Bima), Nadirah Al Habsyi turut menyoroti pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat Pendidikan di Daerah.
“Peningkatan Kualitas Pendidikan membutuhkan kerja bersama. Perguruan Tinggi, Pemerintah, Masyarakat, dan Dunia Usaha perlu membangun kolaborasi agar semakin banyak generasi muda memperoleh kesempatan belajar dan meningkatkan kompetensinya,” terang Nadirah Al Habsyi.
Arman dalam sambutannya juga menegaskan bahwa setiap kemajuan lembaga merupakan hasil kerja bersama Pengurus Yayasan, Pimpinan Kampus, Dosen, Tenaga Kependidikan, Mahasiswa, Alumni, Mitra, dan dukungan Masyarakat.
Ia mengajak seluruh keluarga besar YAPIS Dompu menjaga warisan pengabdian para pendiri, merawat kepercayaan masyarakat, dan terus meningkatkan mutu Pendidikan.
Penulis : SUMBAWAPOST.com











