SUMBAWAPOST.com |™ Mataram- Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyusun Grand Design Perbibitan Sapi Potong 2027-2037 sebagai peta jalan pembangunan peternakan jangka panjang. Sebanyak 21 isu strategis menjadi perhatian untuk memperkuat kualitas bibit, produktivitas, populasi ternak, hingga kesejahteraan peternak.
Kepala Disnakkeswan NTB, Muhamad Riadi, mengatakan penyusunan Grand Design tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun sistem perbibitan sapi potong yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Menurutnya, pembangunan Peternakan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah populasi sapi. Kualitas genetik, ketersediaan indukan, produktivitas, kesehatan hewan, serta tata kelola kawasan juga harus menjadi perhatian.
“Penyusunan Grand Design Perbibitan Sapi Potong 2027-2037 ini menjadi langkah penting untuk menentukan arah pembangunan peternakan NTB dalam jangka panjang. Kita ingin pembangunan perbibitan berjalan lebih terencana, terukur, dan sesuai dengan potensi serta karakteristik masing-masing wilayah,”ungkap Muhamad Riadi, Senin (2/11/2026).
Penyusunan dokumen strategis tersebut dilakukan bersama Tim Ahli Gubernur dan akademisi Universitas Mataram. Prosesnya meliputi kunjungan lapangan, identifikasi potensi wilayah, pemetaan dan analisis data peternakan, hingga pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD).
Salah satu tahapan penting berlangsung di Hotel Lombok Raya, Jumat (30/10/2026). FGD tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi persoalan, merumuskan strategi penyelesaian, serta menentukan arah pengembangan perbibitan sapi potong di NTB.
Riadi menjelaskan, hasil FGD mengidentifikasi sedikitnya 21 isu strategis yang dikelompokkan ke dalam lima aspek utama.
Kelima aspek tersebut meliputi teknis produksi dan perbibitan, kesehatan hewan dan manajemen pemeliharaan, pendataan dan tata kelola kawasan, kelembagaan dan sumber daya manusia, serta pembiayaan dan pengembangan usaha.
“Sebanyak 21 isu strategis yang teridentifikasi menjadi bahan penting dalam menyusun kebijakan perbibitan sapi potong. Seluruh persoalan tersebut akan dipetakan berdasarkan skala prioritas sehingga dapat diterjemahkan menjadi program dan kegiatan yang tepat sasaran,” terangnya.
Pembahasan juga diarahkan pada kondisi dan perkembangan populasi sapi potong NTB, potensi kawasan perbibitan, kualitas genetik ternak, produktivitas, serta berbagai tantangan yang dihadapi peternak di lapangan.
Salah satu perhatian penting dalam penyusunan Grand Design adalah penguatan pengawasan terhadap pemotongan sapi betina produktif.
Langkah tersebut diperlukan untuk menekan pemotongan sapi betina yang masih memiliki kemampuan reproduksi, menjaga keberlanjutan populasi, serta mempertahankan ketersediaan indukan berkualitas.
“Pengawasan terhadap pemotongan betina produktif menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Kita harus menjaga keberlanjutan populasi dan memastikan ketersediaan indukan agar pengembangan sapi potong di NTB dapat berlangsung secara berkesinambungan,” sebut Riadi yang perlu dikonfirmasi.
Selain penguatan pengawasan dan kualitas bibit, Grand Design tersebut juga mencakup pengembangan sapi lokal dan sapi persilangan.
Pengembangannya akan memperhatikan potensi, karakteristik, serta daya dukung masing-masing wilayah. Dengan demikian, program perbibitan diharapkan sesuai dengan kondisi daerah dan kebutuhan pengembangan peternakan setempat.
Disnakkeswan NTB juga memberikan perhatian pada penguatan digitalisasi dan pendataan ternak secara terintegrasi.
Ketersediaan data yang akurat, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan dinilai penting untuk mendukung perencanaan, pengawasan, serta pengambilan kebijakan pembangunan peternakan.
“Digitalisasi dan pendataan ternak harus diperkuat agar pemerintah memiliki basis data yang akurat dan terintegrasi. Data tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam menentukan kebijakan, memetakan potensi wilayah, serta mengevaluasi perkembangan populasi dan kualitas ternak,” tutur Riadi.
Disnakkeswan NTB menargetkan dokumen Grand Design Perbibitan Sapi Potong 2027-2037 rampung pada Desember 2026.
Setelah selesai, dokumen tersebut akan menjadi pedoman pembangunan perbibitan sapi potong dalam jangka panjang. Untuk memperkuat aspek legalitas dan implementasinya, Grand Design nantinya akan diperkuat melalui Peraturan Gubernur (Pergub).
Riadi berharap dokumen tersebut dapat menjadi landasan bagi pelaksanaan program pembangunan peternakan yang lebih terarah, mulai dari peningkatan kualitas genetik, produktivitas, populasi ternak hingga penguatan usaha peternak.
“Harapan kita, Grand Design ini tidak hanya menjadi dokumen perencanaan, tetapi benar-benar menjadi pedoman pelaksanaan pembangunan perbibitan sapi potong di NTB. Dengan dukungan kebijakan dan program yang berkelanjutan, sektor peternakan diharapkan semakin produktif dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan peternak,” pungkasnya.











