SUMBAWAPOST.com |™ Mataram- Bahasa Sasak menghadapi Tantangan Dalam Penggunaannya, terutama di kalangan Generasi Muda Perkotaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam persiapan Kongres Internasional Bahasa Sasak Pertama yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Oktober 2026.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan komitmennya mendukung penyelenggaraan kongres tersebut. Dukungan itu disampaikan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat menerima audiensi jajaran panitia dan tokoh masyarakat di Ruang Kerja Gubernur NTB, Kantor Gubernur NTB, Mataram, Jumat (25/9/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhamad Ihwan, Ketua Majelis Sasak Lalu Sajim Sastrawan, Ketua Panitia Kongres Khairil, serta perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTB.
Kongres berskala internasional tersebut diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat upaya penyelamatan dan pelestarian bahasa Sasak yang mulai menghadapi tantangan penggunaan, khususnya di kalangan generasi muda perkotaan.
Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan strategi konkret untuk memastikan bahasa Sasak tetap lestari sebagai salah satu pilar Identitas Budaya Masyarakat NTB.
Dalam arahannya, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menyambut positif inisiatif penyelenggaraan kongres tersebut. Menurutnya, kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan bahasa Sasak sudah menjadi keharusan.
“Saya menyambut positif dan memberikan dukungan penuh. Kita memang sangat membutuhkan agenda ini,” ujar Gubernur.
Terkait usulan agar bahasa Sasak dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, Gubernur menyatakan siap mengeluarkan regulasi pendukung. Namun, ia menekankan pentingnya mencapai konsensus dan standardisasi bahasa terlebih dahulu.
“Persoalannya adalah kesepakatan bahasa. Apakah yang dipakai standar epe-epe atau Ngeno-Ngene? Kita perlu sepakat mana bahasa Sasak yang akan dijadikan acuan standar. Jika konsensus ini tercapai, kami di pemerintahan siap membuat kebijakannya, termasuk untuk kurikulum hingga petunjuk jalan ber-bahasa Sasak,” tegasnya.
Gubernur juga memberikan dua penekanan utama agar kongres menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
Pertama, kongres tidak hanya mengejar jumlah peserta secara kuantitatif, tetapi memprioritaskan kedalaman substansi yang dihasilkan para pakar serta rumusan tindak lanjut yang praktis.
Sejumlah agenda yang diharapkan lahir dari kongres tersebut antara lain pembentukan Dewan Bahasa dan penyusunan rancangan kurikulum.
Kedua, pelestarian budaya Sasak perlu dibangun sebagai gerakan bersama dengan melibatkan seluruh ekosistem masyarakat, termasuk pelaku usaha yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada identitas Sasak, mulai dari pengusaha kuliner hingga pengelola kawasan seperti ITDC Mandalika.
“Jangan sampai beban menjaga budaya ini seolah hanya milik panitia. Kita harus rangkul semua stakeholder yang hidup dari kesasakan agar mereka punya rasa memiliki dan ikut berpartisipasi,” tambah Gubernur.
Ketua Majelis Sasak Lalu Sajim Sastrawan mengatakan dinamika penggunaan bahasa Sasak saat ini cukup memprihatinkan.
Dari lebih dari 3 juta penutur, diperkirakan sekitar 25 persen mengalami persoalan degradasi penggunaan bahasa daerah.
Di kawasan perkotaan seperti Mataram, generasi muda bahkan mulai asing dengan sejumlah istilah lokal maupun istilah agraris tradisional.
“Melalui kongres ini, kita menghajatkan agar bahasa Sasak tidak hanya sekadar muatan lokal pelengkap, tetapi bisa diajarkan secara terstruktur dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi,” ungkap Lalu Sajim.
Untuk mendukung keberlanjutan program tersebut, penyelenggara juga merencanakan kerja sama dengan sejumlah Perguruan Tinggi di NTB, seperti Universitas Mataram, UIN Mataram, Undikma, Universitas Bumigora, dan NW, guna membuka ruang pencetakan tenaga pendidik atau guru Bahasa Sasak.
Ketua Panitia Kongres Khairil melaporkan persiapan teknis kegiatan saat ini telah mencapai sekitar 70 persen.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berupa sidang kongres, tetapi juga konferensi ilmiah yang menghadirkan pakar, akademisi, dan peneliti bahasa dari dalam maupun luar negeri.
“Kami menyiapkan 4 komisi pembahasan dan sudah membangun komitmen dengan para pakar, termasuk pakar bahasa Sasak dari Australia dan Amerika Serikat,” jelas Khairil.
Kongres Internasional Bahasa Sasak Pertama diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan budaya di Nusa Tenggara Barat sekaligus memastikan bahasa leluhur tetap hidup dan digunakan oleh generasi penerus.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










