SUMBAWAPOST.com |™ Mataram-Lombok menjadi Salah Satu lokasi Pelaksanaan Studi Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON), penelitian berskala Nasional dan Internasional yang menguji Efektivitas Intervensi Nutrisi dalam mencegah Risiko Tuberkulosis (TBC) pada Anggota Keluarga yang tinggal serumah dengan Pasien TBC.
Di Indonesia, studi PHOTON melibatkan lebih dari 42.000 partisipan yang tersebar di sejumlah Wilayah, termasuk Jakarta, Depok, Bogor dan Lombok. Khusus di Pulau Lombok, pelaksanaan studi akan mencakup Wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur.
Pemerintah Provinsi NTB menyambut baik rencana pelaksanaan studi tersebut. PHOTON diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan TBC, khususnya melalui intervensi nutrisi bagi keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB saat menerima audiensi tim Universitas Indonesia (UI) melalui Science Techno Park Universitas Indonesia di Ruang Sekda NTB, Rabu (7/10/2026).
Audiensi tersebut menjadi bagian dari koordinasi awal untuk memperkenalkan studi PHOTON, menyampaikan rencana pelaksanaan Penelitian di Lombok, sekaligus menjajaki Dukungan dan Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTB.
Pimpinan tim penelitian PHOTON, Prof. Dr. dr. Rina Agustina, M.Gizi, menjelaskan bahwa Penelitian tersebut mendapatkan dukungan pendanaan dari Gates Foundation dan mitra pendanaan internasional lainnya. Penelitian juga memperoleh dukungan dan pendampingan dari Kementerian Kesehatan RI.
Menurut Rina, PHOTON merupakan penelitian berskala besar yang bertujuan mengukur efektivitas pemberian suplementasi nutrisi dalam menurunkan risiko kejadian TBC pada kontak serumah pasien TBC.
“Tujuannya kita ingin mengukur efektivitas atau manfaat pemberian suplementasi nutrisi yang diberikan selama enam bulan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta penelitian akan dibagi ke dalam empat kelompok intervensi, yakni kelompok kontrol, kelompok yang mendapatkan vitamin, kelompok vitamin dan mineral, serta kelompok yang mendapatkan vitamin dan mineral yang disertai makanan berenergi dan berprotein.
Intervensi diberikan selama enam bulan, kemudian peserta akan diikuti hingga 24 bulan. Penelitian secara keseluruhan direncanakan berlangsung selama lima tahun, dengan berbagai pemeriksaan meliputi Aspek Biologis, biomarker, Antropometri, Status Gizi hingga analisis Cost effectiveness.
Studi PHOTON akan dilaksanakan di Indonesia dan Tanzania. Di Indonesia, penelitian melibatkan lebih dari 42.000 partisipan yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Depok, Bogor dan Lombok.
Rina menegaskan, pasien TBC bukan menjadi subjek utama penelitian. Fokus penelitian justru diarahkan kepada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC sebagai kelompok yang memiliki risiko terpapar. “Yang menjadi fokus adalah keluarganya,” ujarnya.
Pelaksanaan studi saat ini masih berada dalam tahapan pengurusan ethical approval dan berbagai perizinan. Setelah seluruh proses tersebut selesai, sosialisasi dan community engagement akan dilakukan baik di tingkat nasional maupun daerah.
Rina mengatakan, Kementerian Kesehatan juga telah memberikan dukungan terhadap penelitian tersebut dan mendorong agar PHOTON dapat menjadi bagian dari penelitian berskala Nasional.
Pelaksanaan di daerah nantinya akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas, tenaga Kesehatan, Organisasi Masyarakat serta jejaring yang memiliki pengalaman dalam penanganan TBC dan Program Kesehatan Masyarakat.
Menanggapi rencana tersebut, Sekda NTB Abul Chair menyambut baik pelaksanaan penelitian PHOTON di Lombok. Ia berharap seluruh proses perizinan dapat berjalan lancar dan penelitian mampu memberikan manfaat nyata bagi Masyarakat.
Menurutnya, tantangan penanganan TBC bukan hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga pemahaman masyarakat terhadap risiko penularan.
“TBC seperti Aib. Semakin ditutupi, semakin tidak selesai,” ujarnya.
Karena itu, Abul Chair meminta agar pelaksanaan PHOTON di lapangan melibatkan unsur masyarakat secara luas, mulai dari RT, RW hingga tokoh masyarakat.
Pelibatan tersebut dinilai penting agar masyarakat memahami bahwa risiko TBC tidak hanya dirasakan oleh orang yang sakit, tetapi juga oleh anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Ia juga mendorong agar edukasi mengenai TBC disampaikan dengan memanfaatkan kearifan lokal dan bahasa daerah yang mudah dipahami masyarakat.
“Harus mampu memberikan pemahaman dan manfaat nyata terkait risiko bagi Masyarakat,” katanya.
Selain itu, Sekda mendorong agar intervensi PHOTON dapat dikaitkan dengan program Desa Berdaya sebagai bagian dari kolaborasi program Pemerintah Provinsi NTB.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda juga menyoroti pentingnya Penguatan integrasi data antara Fasilitas Pelayanan Kesehatan, termasuk Rumah Sakit dan Puskesmas.
Menurutnya, koneksi data akan membantu pemerintah dalam melakukan intervensi berbasis kondisi dan kebutuhan di lapangan, meskipun hal tersebut membutuhkan kebijakan dan Koordinasi lintas Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota.
Lombok Barat disebut menjadi salah satu Wilayah yang potensial untuk menjadi lokasi percontohan karena ketersediaan data dan jejaring Pelayanan Kesehatan yang dinilai telah berjalan baik.
Pemerintah Kabupaten juga didorong untuk memanfaatkan data yang telah terkumpul sebagai dasar menentukan intervensi terhadap Masyarakat yang berisiko.
Dengan masuknya Lombok sebagai salah satu lokasi studi PHOTON, Pemerintah Provinsi NTB berharap penelitian tersebut tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan TBC dan memberikan manfaat nyata bagi Masyarakat di Daerah
Penulis : SUMBAWAPOST.com











