add_action('wp_footer', function () { echo ''; }, 99);
add_action('wp_footer', function () { echo ''; }, 99);
Mataram- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan arah baru pembangunan sektor pariwisata dengan menjadikan Quality Tourism sebagai fondasi utama pengembangan Destinasi. Konsep tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan pariwisata mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat identitas Budaya lokal.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, saat menjadi narasumber dalam Lombok Sustainability Tea Talk 2026 yang diselenggarakan Guava International di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, Minggu (12/7/2026).
Mengusung tema “From Sustainability to Revenue, Differentiation and Recognition in Hospitality”, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa konsep keberlanjutan harus dipahami sebagai strategi membangun daya saing destinasi, bukan semata-mata sebagai isu pelestarian lingkungan.
Menurutnya, keberhasilan sektor pariwisata tidak hanya diukur dari tingginya angka kunjungan wisatawan, tetapi juga dari besarnya manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat serta kemampuan menjaga Sumber Daya Alam dan Budaya sebagai daya tarik utama Daerah.
“Pariwisata berkualitas tidak hanya berbicara tentang jumlah kunjungan wisatawan, tetapi bagaimana setiap kunjungan mampu memberikan nilai tambah ekonomi, menjaga lingkungan, melestarikan Budaya Lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” papar Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, di hadapan pelaku industri perhotelan, Akademisi, Asosiasi Pariwisata, dan para pemangku kepentingan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Provinsi NTB terus memperkuat ekosistem pendukung pariwisata melalui berbagai langkah strategis. Di antaranya pengembangan sport tourism, wellness tourism, peningkatan konektivitas antardestinasi, hingga rencana pengoperasian layanan pesawat amfibi (seaplane) guna memperluas akses menuju kawasan wisata unggulan di NTB.
Sebagai contoh, Gubernur menyoroti keberhasilan penyelenggaraan Pocari Sweat Run Lombok yang mampu mendorong tingkat hunian hotel hingga mendekati penuh. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa event berskala internasional mampu menjadi penggerak ekonomi apabila menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang terintegrasi.
Dalam forum diskusi, kalangan akademisi STP Mataram juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan tinggi pariwisata, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan desa wisata sebagai fondasi pembangunan sektor Pariwisata NTB.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur menegaskan bahwa desa wisata harus dikembangkan sebagai destinasi yang menghadirkan pengalaman autentik bagi wisatawan. Tidak sekadar menyediakan akomodasi, tetapi memperkenalkan budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat lokal sebagai keunggulan utama NTB.
“Kita ingin wisatawan datang untuk merasakan pengalaman hidup masyarakat lokal. Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal itulah yang menjadi pembeda NTB dibanding destinasi lain,” kata Gubernur Lalu Muhamad Iqbal.
Masukan lainnya datang dari pelaku industri perjalanan wisata yang mendorong penguatan promosi NTB di pasar internasional. Mereka menilai tren wisata global kini semakin mengarah pada destinasi yang menerapkan prinsip keberlanjutan sehingga strategi promosi perlu mengikuti perkembangan tersebut.
Menanggapi hal itu, Gubernur menjelaskan bahwa strategi promosi NTB kini tidak lagi hanya mengandalkan keikutsertaan dalam pameran internasional. Pemerintah daerah mulai memperluas promosi digital melalui media sosial, kolaborasi dengan konten kreator, serta promosi berbasis pengalaman wisatawan. Di saat yang sama, sinergi promosi bersama Bali dan Nusa Tenggara Timur terus diperkuat untuk memperluas jangkauan pasar mancanegara.
Sementara terkait berbagai tantangan yang dihadapi sektor pariwisata, mulai dari perlambatan kunjungan wisatawan akibat kondisi ekonomi, persoalan pengelolaan sampah, hingga kebutuhan stimulus bagi industri perhotelan agar tetap kompetitif, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa pengelolaan destinasi wisata merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
“Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB tengah mendorong penerapan konsep Corporate Environmental Sustainability, yang menempatkan pelaku industri pariwisata sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, melestarikan sumber daya air, serta menjaga kawasan wisata secara berkelanjutan,” jelasnya.
Menurut Gubernur, kualitas lingkungan menjadi faktor yang sangat menentukan pengalaman wisatawan sekaligus daya saing Destinasi di masa depan.
Selain itu, pembangunan Pariwisata NTB akan terus berpijak pada karakter dan identitas daerah tanpa harus meniru model pengembangan Destinasi lain.
“Kita ingin NTB tumbuh sebagai destinasi kelas dunia tanpa kehilangan jati dirinya. Pariwisata harus menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga lingkungan dan nilai-nilai lokal yang menjadi kekuatan utama Daerah ini,” pungkasnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menghasilkan kesepahaman bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memperkuat posisi NTB sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah di masa depan.
]]>
Mataram-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menggeser Paradigma pembangunan Pariwisata. Jika selama ini keberhasilan sektor Pariwisata identik dengan Tingginya jumlah kunjungan Wisatawan, kini Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh banyaknya wisatawan yang datang.
Pemprov NTB kini mendorong konsep Quality Tourism atau Pariwisata berkualitas yang tidak hanya menghadirkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi Masyarakat, menjaga kelestarian budaya, serta mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Iqbal saat menerima audiensi Harun Taylor dan Usman, perwakilan Chain of Deeds, sebuah jejaring internasional yang bergerak di bidang pengembangan komunitas, kewirausahaan, investasi, dan kolaborasi lintas negara, Senin (29/6/2026).
Audiensi tersebut menjadi bagian dari langkah strategis Pemerintah Provinsi NTB untuk memperkuat posisi Lombok dan NTB sebagai destinasi wisata berkualitas yang mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan identitas budaya dan nilai-nilai lokal yang menjadi karakter masyarakat daerah.
Dalam pertemuan itu, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata NTB kini berfokus pada kualitas kunjungan wisatawan, bukan sekadar mengejar peningkatan angka kunjungan dari tahun ke tahun.
“Kita ingin mengembangkan pariwisata yang berkualitas, bukan sekadar mengejar jumlah wisatawan. Nilai-nilai yang hidup di tengah Masyarakat harus tetap menjadi fondasi pembangunan. Lombok harus dikenal sebagai Destinasi yang mampu menghadirkan pengalaman wisata berkualitas sekaligus menjaga jati diri Daerah,” ujar Gubernur.
Menurutnya, pembangunan pariwisata yang berkelanjutan harus mampu menciptakan manfaat yang dirasakan langsung oleh Masyarakat, mulai dari peningkatan pendapatan, terbukanya peluang usaha, hingga penguatan Ekonomi Lokal.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak, termasuk mitra internasional, untuk memperkuat daya saing Daerah di tingkat Global.
Gubernur menilai kerja sama yang dibangun tidak hanya penting untuk promosi Pariwisata, tetapi juga membuka peluang Investasi, memperkuat pengembangan Ekonomi Syariah, serta mempercepat pertumbuhan sektor-sektor strategis yang mendukung kesejahteraan Masyarakat.
Untuk memastikan seluruh gagasan tersebut dapat diwujudkan secara terukur dan berkelanjutan, Gubernur meminta agar hasil pembahasan dalam audiensi dituangkan ke dalam sebuah Roadmap yang menjadi acuan bersama dalam pelaksanaan program kerja sama ke depan.
Selain sektor pariwisata, pertemuan tersebut juga membahas peluang penguatan ekosistem ekonomi syariah melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga keuangan syariah di NTB, serta pengembangan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) sebagai penunjang agenda nasional dan internasional di Lombok.
Sementara itu, perwakilan Chain of Deeds menilai Lombok memiliki daya tarik yang kuat di mata komunitas Muslim internasional. Tren global menunjukkan semakin banyak wisatawan yang mencari Destinasi yang Aman, Religius, Nyaman, dan Memiliki Kualitas hidup yang baik.
Dengan jaringan yang tersebar di kawasan Timur Tengah, Eropa, Australia, hingga Amerika Utara, Chain of Deeds menyatakan kesiapannya membantu memperkenalkan Lombok kepada investor, pelaku usaha, filantropis, kreator, dan berbagai komunitas Muslim dunia.
Sebagai langkah awal, mereka mengusulkan penyelenggaraan forum atau festival internasional di Lombok yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari berbagai Negara.
Kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Lombok sebagai Destinasi Wisata halal kelas Dunia sekaligus membuka peluang investasi, kolaborasi bisnis, dan kerja sama ekonomi yang lebih luas bagi NTB.
.
]]>